Saturday, 11 November 2017

Teman yang Paling Setia

......
ketika kita ada dalam kesusahan yang amat sangat, kita kemudian berharap ada teman yang bisa membantu kita.

diantara teman-teman yang kita punya, tentu ada seorang teman yang plg kita andalkan dan utamakan dari yang lain. datanglah kita padanya.
"aku sedang sangat kesusahan, maukah kau membantuku?" // "maaf aku tak bisa sama sekali membantumu dalam hal ini."

kita berpikir ‘ah tak apa, aku masih ada teman yg lain’. teman ini adalah teman yg  lebih sering diingat ketika teman pertama tidak ada.
"temanku, aku sungguh dalam kesulitan, dapatkah kau membantuku?" // "tentu aku begitu ingin membantu, tapi apa daya, aku hanya bisa membantumu setengah jalan saja."

kita sedih, karna merekalah teman terakhir yang kita punya. padahal kita perlu seorang yang bisa membantu hingga akhir. kemudian kita resah, diliputi ketakutan dan hampir putus asa.

tiba-tiba datanglah seorang teman. namun tanpa diminta, ia menghampiri kita. ia adalah teman yang sering kita jauhi dan lupa. saking jarang menghiraukan kehadirannya, kita pun hampir tak mengenalinya.
“kau bisa membantuku?”
ia tersenyum “tentu saja. aku tak akan membiarkanmu di sini sendirian. jangan takut, aku akan slalu mendampingimu & aku yang akan meringankan beban-beban mu”

kemudian kita menyesal telah banyak meninggalkan dan melupakannya. kita baru sadar bahwa teman yang kita anggap menyusahkan justru adalah teman kita yang paling setia.
......

Sekilas cerita diatas adalah perumpamaan.
Kesusahan adalah kematian.
Teman pertama adalah harta.
Teman kedua adalah kerabat.
Dan teman ketiga adalah amal ibadah.

Ketika kita hidup,
Kita begitu mencintai dan mengejar harta
Tapi harta tidak bisa menemani, bahkan menyelamatkan setelah kita mati.

Kita memiliki keluarga dan teman dekat. Baik buruknya kita, mereka yg slalu menemani. Tapi sebatas itu. Persaudaraan dan persahabatan yg tak dilandasi iman hanya bs menemani hingga kita dikuburkan. Kemudian mereka pergi satu per satu. Meninggalkan kita di dalam kubur. Sendiri.

Sedangkan, ibadah dan amal kebaikan adalah hal yg kita hindari, yg paling sering dgn mudah kita tinggalkan, yg kebanyakan di antara kita menganggap kuno, norak, atau berlebihan. Kita lupa. Kita lupa bahwa hidup ini punya tujuan. Bahwa hidup ini sejatinya memiliki ujung. yaitu kematian.

________
________

"Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya." (HR. Bukhari, no. 6514; Muslim, no. 2960)

Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu.
________
________

Sudah kau jagakah teman setiamu?

Minggu ke-45
dalam 1Minggu1Cerita
Solo, 11 November 2017

Friday, 10 November 2017

Rela itu Pahlawan

kita bisa saja hidup hanya fokus mengejar apa yang kita ingin kejar, menghabisi tiap apa yang kita jadikan ambisi, mencintai apa yang sedari dulu kita cita-citai.

tapi apa maknanya hidup mendapatkan semua dan menikmatinya sendirian? setelah mendapatkan satu, kita kembali mengejar sesuatu yang baru, mengejar target yang baru lagi, dan mengejar lagi. sebuah hidup yang hanya berupa pengulangan tanpa makna.

makna kebahagiaan itu bukan dari seberapa banyak yang kita dapatkan tapi seberapa banyak yang mampu kita berikan. maka jangan berhenti menebar kebaikan dan manfaat bagi siapa saja yang kita jumpa, di mana saja kita berada, dan dengan apapun yang kita punya.

relawan yang sibuk berbagi tiada sadar bahwa sesungguhnya mereka telah menjadi 'pahlawan' bagi kehidupan orang lain di luar sana. untuk para relawan, selamat hari pahlawan 😊

Sunday, 29 October 2017

Lelah adalah Anugerah

setiap dari kita pasti sedang memperjuangkan sesuatu. dalam proses itu akan ada masa di mana kita merasa lelah dan ingin menyerah. wajar sih, karena tidak ada perjuangan yang tidak melelahkan.

tapi bersyukurlah atas rasa lelah. karena lelah adalah tanda bahwa kita sedang berjuang. lelah adalah tanda bahwa kita sedang bergerak. lelah adalah tanda bahwa kita sedang berubah menjadi lebih baik setiap harinya.

jika perasaan lelah itu datang, ingatlah kepada Allah yang telah mengaruniai kita waktu, kesempatan, kemampuan, kesehatan, kehidupan, yang tentunya tanpa semua itu, mustahil kita bisa merasa lelah. dengan demikian kita bisa merasa justru lelah adalah nikmat.

ingatlah pula kepada mereka yang tiada alpa hadir di samping kita dan mengingat kita dalam doa-doanya. ada banyak orang yang ingin kita bahagiakan. maka lelah itu tak seberapa, jika bisa membahagiakan orang orang yang kita sayang adalah gantinya.

maka khawatirlah jika hari-hari kita berlalu dengan nyaman-nyaman saja atau hanya berlalu dengan biasa-biasa saja. tanyakanlah pada diri kita sendiri, jangan jangan selama ini kita tak pernah kemana-mana? jangan-jangan kita hanya sedang berhenti. diam di satu tempat.

Sunday, 1 October 2017

Adil dalam Mengambil Keputusan

Kita bisa mendengarkan kata semua orang. tapi kita tidak bisa mengikuti semua kata orang

Adil itu tidak bisa terdefinisikan. yang dirasa adil bagi seseorang belum tentu adil untuk orang lain.

Bahkan, seorang hakim yang harus adil memutus perkara pun, putusannya tetap dirasa tidak adil bagi salah satu pihak. Tapi serumit apapun itu, seorang hakim harus berani mengambil sebuah keputusan. Hakim tidak bisa menuruti kemauan semua pihak, tugas hakim adalah mendengar kedua belah pihak, mencari jalan tengah, dan memutuskan.

Setiap hari, kita adalah hakim bagi diri kita sendiri.  Itulah mengapa, hendaknya sebelum kita melakukan atau menyampaikan sesuatu, kita harus belajar melihat dari berbagai sisi, mendengar dari berbagai pihak, dan menelaah apa sebab dan akibat atas apa yg akan kita lakukan.

Yang terpenting adalah bagaimana kita selalu berusaha melibatkan Allah dalam mengambil keputusan. Semoga dengan terus mendekatkan diri padaNya, setiap apapun keputusan yang nantinya kita ambil, ada Hakim Yang Paling Adil yang akan menggerakkan hati dan mengarahkan langkah kita menuju jalan yang terbaik.

Semoga dengan terus mendekatkan diri padaNya, setiap reaksi atas keputusan yang kita ambil, dapat kita sikapi dengan sabar dan lapang dada.

Selama niat kita baik, cara kita baik, itikad kita baik, inshaallah setiap keputusan kita akan menemukan jalannya yang terang. Jika hikmahnya belum didapat sekarang, mungkin dirasakan suatu saat yang akan datang.

1Minggu 1Cerita
Yogyakarta, 1 Oktober 2017

Sunday, 17 September 2017

Kemampuan Kita (tidak) Terbatas

Saya selalu mengagumi setiap orang yang saya temui. Saya yakin setiap orang punya sesuatu yang bisa saya jadikan contoh atau pembelajaran untuk diri saya sendiri. Salah satunya adalah, saya belajar banyak dari kegigihan teman saya saat harus terus vertahan dalam keadaan nya yang serba terbatas.


Teman saya berasal dari suatu daerah di Jawa. Awalnya ia tidak pernah bercita untuk kuliah, karena di desanya tidak ada orang yang kuliah. Dalam bayangannya, selepas SMA, ia akan menjadi TKI, melihat beberapa kesuksesan orang-orang di desanya yang mengadu nasib di negeri orang. Namun tak sengaja, ia mendaftarkan ujian masuk universitas, karena saat itu ia hanya ikut teman-temannya yang kala itu sedang antri panjang di ruang guru untuk mendaftar kuliah. Beberapa tahun lalu, mendaftar kuliah tidak seperti sekarang yang bisa online dan upload semudah menekan tombol enter. Jadi saat itu, antrian panjang adalah antrian pendaftaran dari sekolah untuk dikirimkan berkasnya ke universitas. Ketidaksengajaan masuk dalam antrian, membuat dia bingung harus mendaftar jurusan apa, sehingga ia hanya asal menyebut bahwa ia akan mendaftar sama dengan orang yang di depannya. Sesederhana itu.


Dan rencana Allah pun berjalan, tak disangka ia diterima di sebuah universitas negeri di Yogyakarta. Awalnya, ia tidak mendapat restu dari ayahnya karena orang tua nya tak ada biaya. Bekerja sebagai petani saat itu tak mampu memenuhi uang spp apalagi biaya tinggal dan hidupnya di Kota Yogya. Tapi ibunya lah justru yang meyakinkan dirinya sendiri yang mulai goyah karena penolakan ayahnya. Ibunyalah yang meyakinkan ayahnya bahwa dia pasti bisa. Akhirnya ayahnya setuju dengan catatan ayahnya hanya mampu memberinya uang spp 1 semester dan uang kos, serta biaya hidup selama 6bulan. Selebihnya ayahnya tidak bisa menjamin karena memang tabungannya telah habis digunakan untuk itu. Teman saya menyanggupi dan berjanji pasti akan bisa bertahan dan berjuang, ia berjanji akan menyelesaikan studinya.


Alhasil karena biaya hidupnya hanya mampu dicukupi orang tuanya dalam enam bulan, selama empat tahun kuliah selanjutnya, ia tidak punya tempat berteduh dari panas, berlindung dari hujan, dan berbaring untuk melepas lelah. Dihabiskannya hari-hari di tempat yang berbeda, kadang di kos temannya, kadang di sebuah masjid yang dijumpainya, kadang di sekretariat organisasinya, atau kadang di dalam mobil operasional di sekrenya, asasnya dimanapun ia berada ia (harus) bisa merasa nyaman. Dia hanya sedikit memiliki pakaian dan tidak pernah punya buku, supaya ia hanya membawa sedikit barang untuk di bawa kemana-mana. Maka dari itu, demi memenuhi kebutuhannya, di samping kuliah, dia juga bekerja. Saya tidak pernah menyangka di tengah kehidupan kampus yang megah ini, di tengah kehidupan sosial kita yang semakin konsumtif dan menomorsatukan sebuah pengakuan, saya bertemu dengan seseorang yang begitu sederhana dengan pemikirannya yang luar biasa.


Saat kita kuliah cukup fokus dengan hari ini tugas apa, besok ujian apa, ia juga harus berpikir hari ini makan apa dan nanti harus tidur di mana. Saya tidak bisa membayangkan kehidupan bagaimana yang ia hadapi selama empat tahun menempuh pendidikan S1 nya itu. Saya saja tidak kuasa membayangkannya, namun kenyataannya ia sudah menamatkan S1 nya dengan lancar, dan itu adalah bukti bahwa ternyata ia memang mampu melaluinya. Alhamdulillaah, sekarang ia telah memiliki pekerjaan yang tetap dan bisa membantu keluarganya, bahkan juga orang-orang di sekitarnya.


Ternyata selama ini satu hal yang selalu membuatnya kuat, yaitu ibunya. Kekaguman saya tertuju pada sosok ibu yang bagaimanakah yang bisa mendidik anaknya menjadi seseorang yang sekuat teman saya itu. Saya berkeinginan suatu hari harus berkunjung ke rumahnya untuk berkenalan dengan beliau. Tapi suatu hari beberapa bulan lalu saya mendapat kabar bahwa ibunya meninggal dunia. Kabar yang sangat mendadak, karena ibunya tidak pernah mengeluhkan sakit. Saya sedih mendengarnya, seperti ikut merasa kehilangan.


Itulah kenapa saya saya pernah menulis ungkapan kekaguman saya di blog ini dengan judul hormatku untuk ibumu , beberapa waktu lalu. Saya kagum bagaimana beliau bisa mendidik anaknya hingga menjadi seseorang yang dalam menjalani hidupnya selalu berusaha dengan keras, memiliki jalan pemikiran yang cerdas dan memiliki kesabaran yang tak mudah mencapai batas. Terima kasih, dari keluarga ini, saya telah belajar banyak. 

Berjuanglah tanpa batas,
karena satu-satunya batas,
adalah saat di mana kita kembali pada Yang Di Atas

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. -QS. 2: 286-

Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. -QS. 16:96-


1 Minggu 1 Cerita
Yogyakarta, 17 September 2017

Sunday, 3 September 2017

Harapan dalam sebuah Cobaan


Akhir-akhir ini saya jarang mengunjungi dan “menyirami” blog saya. Semoga tidak layu sebelum berkembang ya. Haha, mengingat blog ini baru saya buat di awal tahun. Sepertinya kalau saya tidak mengikuti writing project bersama 1 Minggu 1 Cerita, makin lupa lagi saya dengan blog ini. Memang ya benar kata orang, berubah itu mudah, yang susah itu istiqomah. Semoga blog saya  tidak lagi saya anak tirikan hiks. Padahal setahun belum ada masa iya mau berhenti gitu aja. Rasanya sayang juga kan ya. Cie sayang.

Btw bicara tentang sayang, beberapa waktu yang lalu ketika berdiskusi bersama teman, teman saya bercerita tentang suatu kehidupan rumah tangga, di mana salah satu pasangan begitu sibuk luar biasa. Jadi karena suatu hal, sang istri sedang mengemban tanggung jawab pesar pada pekerjaannya, sedang sang suami berada dalam tahap tidak begitu banyak kesibukan. Sang suami mengeluh jika istrinya tidak pernah punya waktu untuknya. Setiap hari selalu disibukkan dengan kerja, rapat, lapangan, dan sebagainya. Sedangkan di sisi lain, istrinya mengaku bahwa suaminya terkadang mengajak pergi di waktu yang sama ketika ia harus melakukan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, waktu-waktu di luar pekerjaannya pun selalu ia usahakan untuk ada di samping suaminya. Seolah banyak hal yang telah dilakukan oleh sang istri menjadi tidak ada harganya hanya karena sang istri tidak bisa diajak jalan jalan secara mendadak.

Kemudian saya teringat kata-kata sahabat kecil saya ketika dulu saya pernah curhat kegalauan saya menghadapi masalah. Begini katanya

Kalau kata ustadz , setiap orang hidup pasti punya cobaan, cobaannya beda-beda, ada yang dcoba di hubungan dengan orang tuanya, hubungan dengan saudaranya, ada yang dicoba di hubungan dengan suami/istrinya, ada yang dicoba di jodohnya, kesehatannya, karirnya, sekolahnya, lingkungannya, dll.

Dan biasanya cobaannya itu di hal yang paling dia cinta dan dia jaga. Maryam yang sangat menjaga kesuciannya dicoba dengan tiba-tiba memiliki anak tanpa suami, Ibrahim yang menanti anak lama dicoba dgn diperintahkan menyembelih anaknya,. insya Allah pasti ada jalan kalo kita semakin mendekat ke Allah.

Dihubungkan dalam contoh tadi, jika sang suami mengeluh dan mengaku tertekan, menganggap tidak dihargai dan sebagainya, padahal di sisi lain sang istri sudah begitu banyak mencoba membagi waktu dan selalu meluangkan bahkan terkadang sengaja meninggalkan pekerjaannya hanya demi menemani suaminya makan di rumah atau sekedar hang out, menonton film, dll, alhamdulillaah nya adalah berarti kedua orang tersebut masih ada rasa memiliki satu sama lain. Jika dirasa hal tersebut paling mengganggu pikirannya, berarti memang selama ini hubungan itulah yang paling mereka jaga dan mereka cinta. Nah mungkin memang sedang diuji dengan waktu dan komunikasi.

Saya belum menikah, jadi kurang tahu juga sih, tapi katanya di artikel yang pernah saya baca, dalam suatu hubungan suami istri itu porsi saling "memberi" tidak selalu 50:50. Kadang karena suatu hal, A baru bisa memberi 30% maka B hrs memberi 70%. Dan sebaliknya mngkn krna suatu hal, kadang B hny mampu memberi 40% maka A hrs memberi 60%. Tapi yang pntg kasih syang di dlmnya selalu 100%.

Menerima kelebihan seseorang itu biasa, yang luar biasa itu jika kita bisa menerima kekurangan seseorang. Jangan karena kekurangan satu hal menutup banyak kebaikan lain yang selalu diberikan buat kita. Semoga deh nanti kalau sudah Allah izinkan membina rumah tangga, semoga bisa saling membuka hati buat memaafkan dan saling berbesar hati utk minta maaf. Saling introspeksi dan melihat seberapa jatuh bangun perjalanan hidup bersama yang telah dilalui, melihat anak-anak, atau bahkan cucu-cucu, atau bahkan cicit nanti, bisa menjadi kekuatan sekaligus harapan untuk bertahan melalui segalanya bersama.Ihiiiiy~~

Pokoknya yang pntg kita emua harus ada usaha untuk memperbaiki diri dan jd lbh baik. Hrs sabar dan selalu bersyukur. Semoga Allah memberikan kita keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Bersama sampai di jannah. Aamiin.

1Minggu 1Cerita
Klaten, 3 September 2017

Thursday, 17 August 2017

17an dalam 1-7an

Kalo perbedaan itu bikin perpecahan, Pahlawan kita ga mungkin bisa membawa kita dalam kemerdekaan. Jadi jangan jadikan perbedaan sebagai alasan untuk ga bisa bersatu dalam kebersamaan.

Berseberangan dalam hal pemikiran itu hal biasa. Jangankan pemikiran, dari luar pun kita sudah lahir dari latar belakang yang berbeda beda, dari suku, agama, adat, kebiasaan, dan lain lain. Bersatu itu ga harus dipaksa untuk bercampur jadi satu. Tapi bersatu itu berjalan beriringan untuk sebuah tujuan yang satu.

Jadi siapa kita, dari mana kita, sebagai apapun kedudukan kita sekarang, berikanlah kontribusi terbaik untuk bangsa. Jangan hanya menuntut dan merutuki pemerintahan tanpa solusi atau kontribusi yang nyata.

Alhamdulillah ya jaman dulu banget belum ada gadget, jadi saat lelah dikuasai penjajah, Para Pejuang ga update status dengan sumpah serapah untuk para penjajah. Beliau semua menggerakkan raga dan jiwa nya untuk bersatu karena punya tujuan yang satu, yaitu merdeka. Semoga Allah menjadikan akhir hidup Para Pahlawan baik yang kita kenal namanya maupun yang tidak, sebagai akhir yang husnul khotimah.

Semoga nikmat kemerdekaan ga membuat kita terlena hingga hanya menjadi sebuah euforia perayaan tanpa makna. Daripada mencaci lebih baik kita saling mendoakan bangsa kita, dan Para Pemimpin kita semoga berada di jalan yang lurus dan diridhoi Allah.

Selamat mempertahankan kemerdekaan dengan karyamu. Mulai dari diri sendiri, dari hal kecil, dan dari lingkungan terkecilmu.

Berbeda itu biasa, asal masih ada Merah Putih di antara kita.

Dirgahayu Republik Indonesia ke 72
17 Agustus 2017


Menghadapi Insiden di Jalan

Hari ini aku bersyukur karena Allah masih melindungi aku di jalan. Benturan yang terjadi tidak menimbulkan luka, tidak mengakibatkan kerusak...