Wednesday, 2 May 2018

Menjemput Cinta

Suatu hari, ga ada angin, ga ada hujan, teman saya menghubungi dan bertanya perihal jodoh. Katanya, dulu saya pernah mengatakan begini, "jodoh itu ga usah dicari, nanti dateng sendiri" Kemudian berlanjutlah kita ngobrol via chat, dan begini kurang lebih hasil diskusi kami: 


Dalam hidup ini, kita jangan sekedar percaya sama Allah, tapi juga mempercayakan seluruh hidup kita sama Allah. Dalam hal apapun, termasuk jodoh. Jodoh kita udah tertulis bahkan sebelum kita lahir. Tapi ada perasaan ragu dalam hati, kok aku masih sendiri, jodohku siapa ya... Rasa khawatir itu wajar sih asalkan tidak berlebihan, akan lebih baik jika rasa khawatir itu adalah khawatir pada kualitas diri kita, misalnya di umur aku yang sekarang, hidupku udah ngapain aja ya, baktiku sama orgtua udah sejauh apa ya, solatku puasaku apa samaua udah maksimal atau cuma formalitas, kalo besok aku udah ga ada gimana ya, apa yang akan orang ingat dari aku, atau bahkan dengan mudah aku dilupakan begitu aja ya, dll, jadi arahkan galau kita untuk yang membuat kita lebih dekatt kepada Allah.

Balik lagi ke jodoh, karena jodoh kita tuh udah diatur, jadi kita harus yakin dan percaya bahwa suatu saat entah bagaimana caranya pasti ktmu.pasti ga mungkin ga. Kalaupun ga di dunia mungkin di akhirat nanti.apa ga lelah sih kita sibuk mempercantik diri hanya agar ada seseorang yang menyadari kehadiran kita, kita sibuk menampilkan diri yang terbaik demi orang lain. Kenapa kita ga berlomba buat tampil cantik dan terbaik di hadapan Allah. Solat kita gimana, udah khusyuk belum, udah tepat waktu belum. Kata kuncinya adalah, Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan beri jalan keluar dari arah yang tidak disangka sangka.

Kita fokus memperbaiki diri aja. Memperbaiki hubungan kita sama Allah, sama org tua, sama sekitar kita, fokus jadi bermanfaat. Nanti di saat kita fokus menjadi baik, Allah akan kirimkan yang terbaik. Jadikan Allah itu bukan formalitas ibadah aja, tp teman kita bicara, sering sering isfighfar dan berdoa. Tapi jangan ibadah hanya karena ingin jodoh, nanti kalau kita udah dapat jodoh, lupa sama Allah. Nah, bisa juga kita blm btmu jodoh mngkn krna Allah menilai kita belum siap, jangan-jangan nanti kalau dikasih jodoh sekarang, doanya ga sekhusyuk ini lagi, dll. Jadi intinya sih gausah kita takut ga dapat jodoh, ga dapat rezeki, ga dapat apa yang kita mau. Allah yang kasih semua, Allah aja bisa menghidupi jutaan bahkan milyaran manusia dan makhluk hidup lainnya, beserta seluruh isi dunia. Apalagi cuma minta jodoh, duniawi, itu hal yang mudah bagi Allah. Nanti di saat kita udah lupa sama keinginan kita tentang jodoh karena sibuk beribadah, sibuk berbuat hal bermanfaat untuk orang banyak, sibuk berbakti sama orang tua, nanti tiba-tiba jodoh itu datang sendiri kok, dengan cara yang mungkin kita ga kira dan waktu yang terbaik.

Ibarat tujuan ku dari jogja ke solo mau lewat klaten, ada orang lain juga dari jogja ke solo tapi lewat semarang dulu, agak lama sih tapi nanti kita bias ketemu di solo. Jadi kalo belum ketemu ya anggap aja jodoh kita lagi lewat jalan lain. Jalan lainnya itu mungkin dia lagi ngejar studi atau karirnya, dia lagi perbaiki dirinya, ibadahnya, dia lagi nyelesein masalahnya, dll. Jodoh tu juga rezeki, rezeki itu kita yang jemput, kalo kita jemput dgn cara yang baik, inshaAllah kita dapat dgn org baik, di waktu yang terbaik. Jemputnya adalah dengan cara yang diridhoi Allah.

Nanti kita akan sampai di satu titik, kayak... ehhh hidup ni cari apa sih, cari uang….habis, cari makan enak….kenyang, cari cantik ….tua, cari kerjaan…..capek,cari jabatan…..sementara, cari harapan ke orang …..sakit. Maka carilah Allah, carilah cintaNya, Allah tidak akan pernah mengecewakan kita.

Selamat menjemput cinta.





Sunday, 18 March 2018

Merasa Cukup

Sering dengar ga sih kadang kita terbiasa mensyukuri sesuatu karna membandingkan dengan yang lebih buruk. Padahal membandingkan diri dengan kisah/nasib/keadaan orang lain tak akan membuat hidup kita jadi lebih baik, justru menunjukkan ketidakmampuan kita memahami dan menerima diri kita sendiri.

Setiap orang punya garis hidupnya masing-masing kan. Jadi tidak perlu membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain hanya untuk bisa bersyukur.

Bersyukur itu bukan karna kita lebih baik dari yang lain tapi bersyukur karna kita menjadi lebih baik dari diri kita yang kemarin.

Dulu kita semua sama. Seorang bayi mungil yang tak tau apa apa, yang tak bisa mengutarakan apa apa, dan yang tak bisa beranjak sendiri kemana mana.

Sekarang ketika telah tumbuh menjadi seorang dewasa yang bebas bergerak dan berkehendak, ada rasa bangga seolah apa yang didapat sekarang adalah jerih payah sendiri, ada rasa "aman" karena memandang hidup kita (masih) lebih baik dari hidup orang lain dan dengan mudahnya kita menjudge diri kita kurang dari banyak segi karena tak bisa mendapatkan apa yang orang lain miliki, kurang mapan, kurang pintar, kurang cantik/ganteng, dan kurang kurang yg lainnya.

Hal tersebutlah yang membuat kita jauh dari rasa syukur dan rasa cukup (qonaah). Bersyukurlah atas kemudahan dan kesulitan dalam hidupmu. Semoga kemudahan tak melalaikanmu, dan kesulitan tak melelahkanmu. Belajarlah merasa cukup karena apa yang di sisi kita sekarang inilah yang terbaik bagi diri kita.

Allah menyebutkan hati nurani setelah pendengaran dan penglihatan agar kita belajar untuk mendengar dan melihat tak hanya secara lahiriah tapi juga melihat dan mendengar setiap tanda tanda kebesaranNya dengan hati kita.

Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat sombong dan kufur. Aamiin

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.
QS An Nahl-78

Surabaya, 18 Maret 2018
23:50

Sunday, 21 January 2018

Manajemen Stress

Suatu hari pada sebuah komunitas yang sedang saya ikuti, ada suatu project yang mewajibkan tiap anggota mengumpulkan materi tentang manajemen stress. Secara singkat, menurut wikipedia, Manajemen stres adalah kemampuan penggunaan sumber daya (manusia) secara efektif untuk mengatasi gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang muncul karena tanggapan (respon). Tujuan dari manajemen stres itu sendiri adalah untuk memperbaiki kualitas hidup individu itu agar menjadi lebih baik.
 
Di tengah kesibukan atau prioritas kita sekarang, tak jarang kita mengalami jatuh bangun sehingga kadang pikiran kita dilanda kejenuhan, kepenatan, yang berujung dengan stress. Sebenernya stress ga selalu berujung buruk asal kita bisa mengenali dan mengendalikannya. Dari beberapa sharing yang pernah saya lakukan, ada beberapa cara yang bisa kita coba untuk menghindari atau mengurangi stress:
 
1.  Berpikir positif
Kita harus mengenali kapan perasaan stress itu datang agar kita bisa ga larut menurutinya. Kita juga bisa mencoba tarik nafas dalam dalam sambil pikirkan dan katakan trs hal positif dalam hati kita lalu hembuskan perlahan. Ulangi sampai perasaan kita sedikit tenang. Setidaknya itu cukup mengurangi emosi kita. Hal tersebut juga bisa kita praktekan setiap bangun pagi supaya kita semangat menjalani hari. Selain itu mendekatkan diri dengan Tuhan bisa jadi self healing saat apapun yang terjadi. Kita bisa melakukan ibadah sesuai keyakinan kita. Kita juga harus selalu bersyukur atas apa yang kita punya sekarang. Percayalah semua itu yang terbaik untuk kita.
 
2. Beri perhatian untuk diri sendiri
Kadang kita terlalu bersikeras demi menyelesaikan sesuatu sampai acuh pada diri sendiri. Padahal kita juga butuh me time lho, jd luangkanlah waktu sejenak untuk melakukan apa yang kita suka misal jalan jalan atau membaca buku, menulis, dsb. Di samping itu biasakan diri kita untuk istirahat yang cukup, makan makanan yang sehat, rajin olahraga, dan banyak minum air putih agar metabolisme tubuh terjaga. Kalau badan kita sehat kita melakukan aktivitas apapun dengan lancar dan fokus.
 
3. Berada di lingkungan yang positif
Sibukkan diri kita dengan kegiatan positif. Tidak ada salahnya daripada jenuh di waktu luang, randomly kita bisa ikut berbagai kegiatan sosial atau join di komunitas sesuai apa yang kita suka. Kita akan banyak mengenal orang dan lingkungan baru sehingga bisa jadi hiburan tersendiri
 
4. Belajar berbagi
Berbagi bisa dalam banyak hal baik berbagi rezeki, berbagi waktu untuk bertemu keluarga, teman-teman,hingga berbagi cerita. Dengan berbagi rezeki kita bisa belajar banyak dari orang orang yang tetap tangguh bertahan meski masalahnya jauh berat dari kita. Dengan berbagi cerita, memang tidak selalu menyelesaikan masalah tapi setidaknya bisa mengurangi beban pikiran kita. Percayalah ada orang yang siap mendengar, membantu, dan selalu ada. Tapi ga semua hal harus kita umumkan di status, postingan ig, dll. Carilah orang yang dipercaya untuk bisa menjadi teman cerita.
 
5. Bijak memanfaatkan teknologi
Kita bisa manfaatkan teknologi dengan mendownload banyak aplikasi tentang manajemen stres. Ada banyak aplikasi misalkan calm, podcast, dst. Kita juga bisa baca buku online untuk kita baca di waktu luang, atau kita menulis jurnal, atau mendengarkan musik atau bahkan mendengarkan ceramah atau melihat video motivator atau tokoh yang jadi idola kita.
 
Ada banyak hal yang bisa kita lakukan tapi semua itu tidak akan ada artinya jika dalam hati kita tidak ada keyakinan untuk melalui semuanya dengan baik. Yakinkanlah dalam diri bahwa kita mampu, kita bisa, kita luar biasa. Karena tidak ada yang bisa mengubah hidup kita selain diri kita sendiri.
 
Semoga kita bisa saling mensupport satu sama lain yaaa <3

Sunday, 3 December 2017

Belajar dari Sebuah Gambar



saya ingat mengambil foto ini sekitar dua tahun yang lalu saat saya menunggu bapak saya selesai jam kerja. di bawahnya ada angkringan dan seperti biasa, saya menunggu sambil minum es teh. saya ingat sekali waktu itu saya bilang dalam hati, es tehnya enak deh besok ke sini lagi ah. Hehehe. sebagai penggemar berat es teh, saya memang sudah biasa "menandai" tempat tertentu dalam hati dan sengaja mendatanginya untuk ke dua-tiga kali. waktu itu uang kembaliannya tidak ada, saya bilang tidak apa apa, besok saya ke sini lagi. 

tapi ternyata sampai sekarang saya tidak sempat ke sana lagi, saya tidak ingat karena apa. sekarang pohon itu sudah tidak ada, angkringan entah ke mana dan ayah saya sudah purna bakti dari pekerjaannya.

sangat sederhana, tapi saya mengambil sedikit pelajaran. waktu berlalu, dan ternyata segala sesuatu berubah. perubahan itu terjadi dengan cepat. kadang kita merasa masih memiliki waktu untuk berbuat sesuatu, tapi saat menyadarinya sesuatu itu telah berlalu.

apa yang kita rencanakan, tak dapat kita lakukan, maka itu hendaknya saat berencana kita ucap jika Allah menghendaki

anyway, di mana ya angkringan itu sekarang? #hehe #pertanyaanpenting

sesuatu yang ditangkap mata bisa menjadi memori, sesuatu yang dimaknai hati bisa menjadi pelajaran yang berarti

Klaten, 3 Desember 2017

Saturday, 18 November 2017

Bahasa Orang Tua dan Anak

gambar Asma untuk Ayah dan Bunda


minggu lalu kakak saya sakit, dan harus dirawat beberapa hari di rumah sakit. karena di rumah sakit anak kecil dilarang masuk, nah Asma, anak pertamanya, nitipin gambar tangannya sendiri buat ayah bundanya. udah pasti langsung mewek deh ya kakakku ini. tapi gambar sederhana itu jadi moodbooster buat semangat sembuh biar cepet pulang ketemu anak-anaknya.
_____
_____

seiring bertambahnya usia, bahasa cinta dan sayang kita dengan orang tua berubah. kita tak lagi mudah saling mengungkapkan dengan kata-kata. tapi semuanya tergambar dari perbuatan dan tak pernah absennya orang tua menyebut nama kita dalam doanya, begitu pun sebaliknya.

apapun yang kita jalani sekarang, salah satu motivasi utama kita adalah membahagiakan orang tua. di sisi lain, orang tua rela membanting tulang untuk menghidupi kita, orang tua dengan sabar merawat kita, mengenalkan kita pada cahaya, suara, benda, kata, mengajari kita bicara, berjalan,berlari, juga bagaimana beribadah dan bersikap, hingga kita bisa menjadi seseorang seperti sekarang.

orangtua pasti pernah kecewa pada kita, tapi rasa sayang dan cinta mereka mengubur rasa kecewanya pada kita. orang tua rela mengorbankan apapun dan rela kehilangan apapun, demi kebahagiaan anaknya, meski mereka memahami bahwa suatu saat nanti anak-anaknya satu persatu akan 'pergi', mungkin untuk belajar, mengejar cita, atau membangun sebuah rumah tangga.

ikatan orang tua dan anak adalah bahasa cinta sesama manusia yang paling indah. semoga di waktu kita yang tersisa, kita bisa selalu menjadi alasan dibalik senyum dan tangis bahagia kedua orang tua kita.

Saya, Bapak, dan Mama, 2015

Terima kasih Bapak dan Mama sudah merawat aku

Klaten, 18 November 2017

Saturday, 11 November 2017

Teman yang Paling Setia

......
ketika kita ada dalam kesusahan yang amat sangat, kita kemudian berharap ada teman yang bisa membantu kita.

diantara teman-teman yang kita punya, tentu ada seorang teman yang plg kita andalkan dan utamakan dari yang lain. datanglah kita padanya.
"aku sedang sangat kesusahan, maukah kau membantuku?" // "maaf aku tak bisa sama sekali membantumu dalam hal ini."

kita berpikir ‘ah tak apa, aku masih ada teman yg lain’. teman ini adalah teman yg  lebih sering diingat ketika teman pertama tidak ada.
"temanku, aku sungguh dalam kesulitan, dapatkah kau membantuku?" // "tentu aku begitu ingin membantu, tapi apa daya, aku hanya bisa membantumu setengah jalan saja."

kita sedih, karna merekalah teman terakhir yang kita punya. padahal kita perlu seorang yang bisa membantu hingga akhir. kemudian kita resah, diliputi ketakutan dan hampir putus asa.

tiba-tiba datanglah seorang teman. namun tanpa diminta, ia menghampiri kita. ia adalah teman yang sering kita jauhi dan lupa. saking jarang menghiraukan kehadirannya, kita pun hampir tak mengenalinya.
“kau bisa membantuku?”
ia tersenyum “tentu saja. aku tak akan membiarkanmu di sini sendirian. jangan takut, aku akan slalu mendampingimu & aku yang akan meringankan beban-beban mu”

kemudian kita menyesal telah banyak meninggalkan dan melupakannya. kita baru sadar bahwa teman yang kita anggap menyusahkan justru adalah teman kita yang paling setia.
......

Sekilas cerita diatas adalah perumpamaan.
Kesusahan adalah kematian.
Teman pertama adalah harta.
Teman kedua adalah kerabat.
Dan teman ketiga adalah amal ibadah.

Ketika kita hidup,
Kita begitu mencintai dan mengejar harta
Tapi harta tidak bisa menemani, bahkan menyelamatkan setelah kita mati.

Kita memiliki keluarga dan teman dekat. Baik buruknya kita, mereka yg slalu menemani. Tapi sebatas itu. Persaudaraan dan persahabatan yg tak dilandasi iman hanya bs menemani hingga kita dikuburkan. Kemudian mereka pergi satu per satu. Meninggalkan kita di dalam kubur. Sendiri.

Sedangkan, ibadah dan amal kebaikan adalah hal yg kita hindari, yg paling sering dgn mudah kita tinggalkan, yg kebanyakan di antara kita menganggap kuno, norak, atau berlebihan. Kita lupa. Kita lupa bahwa hidup ini punya tujuan. Bahwa hidup ini sejatinya memiliki ujung. yaitu kematian.

________
________

"Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya." (HR. Bukhari, no. 6514; Muslim, no. 2960)

Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu.
________
________

Sudah kau jagakah teman setiamu?

Minggu ke-45
dalam 1Minggu1Cerita
Solo, 11 November 2017

Friday, 10 November 2017

Rela itu Pahlawan

kita bisa saja hidup hanya fokus mengejar apa yang kita ingin kejar, menghabisi tiap apa yang kita jadikan ambisi, mencintai apa yang sedari dulu kita cita-citai.

tapi apa maknanya hidup mendapatkan semua dan menikmatinya sendirian? setelah mendapatkan satu, kita kembali mengejar sesuatu yang baru, mengejar target yang baru lagi, dan mengejar lagi. sebuah hidup yang hanya berupa pengulangan tanpa makna.

makna kebahagiaan itu bukan dari seberapa banyak yang kita dapatkan tapi seberapa banyak yang mampu kita berikan. maka jangan berhenti menebar kebaikan dan manfaat bagi siapa saja yang kita jumpa, di mana saja kita berada, dan dengan apapun yang kita punya.

relawan yang sibuk berbagi tiada sadar bahwa sesungguhnya mereka telah menjadi 'pahlawan' bagi kehidupan orang lain di luar sana. untuk para relawan, selamat hari pahlawan 😊

Menghadapi Insiden di Jalan

Hari ini aku bersyukur karena Allah masih melindungi aku di jalan. Benturan yang terjadi tidak menimbulkan luka, tidak mengakibatkan kerusak...