waktu terus bergerak menghabisi kita, maka yang bisa kutinggalkan adalah jejak-jejak cerita
Monday, 24 October 2022
Hidup Dalam Layar
Mencari Makna dalam Sepi
dulu aku pikir duduk sendirian menatap bulan itu terlihat seperti orang yang sedang kesepian. tapi ternyata justru dalam kesendirian itu aku bisa membuat jeda untuk mengenal diri lebih dalam. mensyukuri apa yang telah dilewati, mempersiapkan diri untuk apa yang hendak dihadapi. ternyata, dunia ini tidak sepi sepanjang kepala kita masih mengetahui untuk apa kita ada di sini.
setelah menghadapi banyak hal aku baru menyadari bahwa kesepian yang sebenarnya adalah ketika kita telah melakukan banyak hal, mendapatkan banyak hal, dikelilingi banyak hal, tapi tak merasakan apa apa. sebuah hidup tanpa tujuan.
aku ingin hidup yang bukan sekedar hidup. karena ada yang membedakan kita, manusia, diantara semua makhluk hidup, yaitu akal dan pikiran.
dunia ini sudah dipenuhi oleh jutaan atau bahkan milyaran manusia. kita hidup di bumi, sebuah bagian yang sangat kecil di dalam tata surya.
Sunday, 31 October 2021
Yogyakarta(ku)
Tahun 2010 adalah saat pertama kali saya pergi ke Yogyakarta bersama teman-teman untuk ujian mandiri di sebuah kampus di sana. Sehari sebelum ujian tulis, teman saya mengajak keliling di sekitar kampus. Bagi saya Yogyakarta itu seperti ada magnetnya. Melihat suasana kampus di sana dalam hati terbersit "suatu saat kayaknya aku bakal tinggal lama deh di sini tapi nggak tau untuk apa". Terpikir begitu saja. Bagi saya pikiran itu hanyalah angin lalu. Ujian tulis berlalu dan ya, sudah bisa ditebak hasilnya bahwa saya tidak lulus. Haha.
Ternyata Allah punya rencana lain. Saya tetap bisa ke Yogyakarta untuk menempuh studi. Tapi melalui ujian SNMPTN, bukan melalui ujian mandiri. Bukan di Fakultas Kedokteran seperti awalnya tetapi di Fakultas Hukum. Plot twist. Benar-benar di luar dugaan saya. Kemudian saya pun tinggal di sana selama hampir 7 tahun. 7 tahun yang penuh suka duka jatuh bangun tawa dan tangis. Dari tangis kecewa sampai tangis bahagia ada di sana.
Sekarang saya sudah meninggalkan Yogyakarta pindah dari satu pulau ke pulau yang lain. Maka tidak heran saat saya jauh dari Yogyakarta, rasanya seperti ada yang kurang. Kalau kata Anang, separuh jiwaku pergi ~~ Rasanya saya rindu sekali dengan kota itu. Rindu kulinernya, jalan-jalannya, suasananya, pokoknya semua hal di sana memorable sekali.
Hingga akhirnya pernah suatu hari saya sengaja meluangkan waktu libur seharian khusus untuk datang lagi ke Yogyakarta. Saya pergi ke tempat makan dan tempat jalan yang dulu sering saya kunjungi ketika masih tinggal di sana. Tapi ketika saya makan seperti ada yang kurang, ketika saya menikmati jalanan Yogyakarta, seperti ada yang kurang.
Setelah itu barulah saya tersadar bahwa ternyata saya tidak sekedar rindu dengan Yogyakarta. Lebih dari itu. Saya rindu dengan momen-momen kebersamaan bersama teman-teman. Meskipun hanya bercanda saat di perjalanan, bosannya kami ketika harus menunggu teman yang telat datang, bingungnya kami hanya untuk menentukan mau makan di mana, randomnya kami tiba-tiba pergi ke mana, ataupun sekedar candaan atau celotehan ketika kami bersama, atau momen-momen ketika kami saling menghibur dan saling menguatkan.
Kalaupun waktu bisa dibeli, sepertinya saya tidak akan mampu membelinya karena semua momen-momen itu sangat mahal dan berharga.
Hargailah setiap momen yang kita lalui saat ini, karena mungkin suatu hari nanti kita akan merindukan hari ini. Karena kembali ke tempat yang sama belum tentu akan memberi kita rasa yang sama.
Terima kasih untuk semuanya yang sudah membuat saya merasakan makna "Jogja yang Berhati Nyaman".
Terima kasih Yogyakarta. Tempat 'tuk mengejar cita, menemukan cinta, dan meninggalkan banyak cerita.
Jauh dari Yogyakarta, 31 Oktober 2021
"..Terbawa lagi langkahku ke sana, mantra apa entah yang istimewa.. Ku percaya selalu ada sesuatu di Jogja.." (Sesuatu di Jogja - Adhitia Sofyan)
Sunday, 17 October 2021
Menunggu atau Mendahului
Sudah lama saya tidak menulis di blog ini sampai-sampai saya bingung apa yang hendak saya tuliskan. Oke sepertinya bisa dimulai dengan bring back memories terhadap sebuah foto. Ini foto yang saya pilih untuk diceritakan. Sebenarnya foto di atas saya ambil pada bulan April 2021, di Boalemo, tempat saya tinggal saat ini. Di sini memang banyak gerobak sapi. Tapi foto itu membuat memori saya kembali pada suatu hari di Bandar Lampung.
Suatu hari saya sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat, kebetulan saya tidak melewati jalan utama saat itu dan lebih memilih melewati jalan di tengah pemukiman. Tapi ternyata saat itu jalan yang saya lewati macet panjang sekali. Entah apa yang menyebabkan lalu lintas tidak lancar. Padahal di hari biasa tidak sepadat itu. Saking penasaran, maka saya tengok keluar untuk mencari tahu ada apa di ujung sana. Setelah saya menengok keluar ternyata jalanan hampir macet karena di ujung jalan ada gerobak sapi yang jalannya pelan sekali. Bentuk gerobak sapinya mirip dengan foto yang saya ambil di atas tetapi kondisi jalannya tidak sesepi itu. Seingat saya kondisi jalan saat itu hanya dua jalur berlawanan arah yang sama padatnya, sehingga tidak memungkinkan bagi saya untuk mendahului kendaraan di depan saya.
Hihihi lucu juga ya, ternyata mesinpun tetap harus mengalah kepada sapi. Lalu pikiran saya berkelana. Kendaraan sebaik dan secanggih apapun di jalan raya, kalau jalanan itu tidak cukup lapang untuk dilewati, kalau jalanan itu ada kendaraan lain yang tidak bisa didahului, maka pengendara hanya bisa menunggu sebentar hingga ada kesempatan untuk mendahului kendaraan di depannya.
Begitupun dalam kehidupan. Terkadang bekal dan kelebihan yang masing-masing kita punya ternyata belum cukup untuk membawa kita menuju tempat yang kita inginkan. Pikiran yang sering terdistraksi dengan pencapaian orang lain membuat kita seringkali berprasangka buruk kepada Allah. Kita melihat orang lain dengan mudahnya mendapatkan apa yang kita inginkan, ada perasaan marah mengapa kita tidak jua sampai pada ambisi itu. Hal seperti ini apabila tidak bisa kita kendalikan maka bisa membuat kita lupa diri dan memaksakan jalan yang seharusnya, kita merasa paling tahu apa yang terbaik dengan melakukan segala cara untuk melampauinya. Kita lupa bahwa di samping usaha yang maksimal masih ada faktor lain yang mempengaruhi. Mungkin belum waktunya, mungkin saja waktunya sudah memenuhi tapi belum ada kesempatan, mungkin memang kita dinilai belum mampu mengembannya atau mungkin faktor-faktor lainnya di luar kendali kita yang tidak perlu kita ketahui.
Kita bisa saja memaksakan jalan meski belum waktunya, tapi yang namanya memaksakan jalan pasti kita akan melangkah melalui jalan yang tidak seharusnya dan langkah kita akan mengganggu harmonisasi yang ada, parahnya malah bisa mengambil hak atau kepentingan orang lain.
Berdoalah sejak awal untuk diberikan yang terbaik, usahakan sebaik mungkin, lalu sisanya nikmati saja perjalanannya. Ada kalanya jalan itu sempit dan sulit. Tapi hindarilah terus terpaku melihat sempitnya jalan dan alihkan pandangan kita dengan melihat indahnya pemandangan atau betapa serunya lalu lalang di sekitar. Karena sebenarnya kita sedang menuju tempat terindah. Qadar yang terindah.
Percayalah, akan ada waktunya. Rezeki tak akan pergi. Kelak di waktu yang tepat, kesempatan itu, jalan itu, peluang itu, akan kita dapatkan.
Wednesday, 19 February 2020
Kata Terakhir
Sungguh, kita tidak pernah tahu kapan waktu memisahkan kita dengan orang-orang yang kita sayang.
Kita tidak pernah tahu apakah di setiap perjumpaan dengan seseorang, kita masih punya kesempatan untuk bertemu lagi. Apakah senyuman yang kita lihat, sapaan dan pesan yang disampaikan, pelukan hangat yang kita rasakan, lambaian tangan yang mereka berikan, akankah kita jumpai lagi besok atau suatu hari nanti? Mungkinkah itu yang terakhir? Itulah yang aku rasakan tiap pergi jauh dari suamiku, orang tuaku, saudaraku, dan juga orang-orang terdekatku.
Tapi aku beristighfar dan selalu ingat bahwa hidup mati kita hanya Allah yang tahu. Bahwa setiap orang pasti akan meninggal. Bahwa meninggal tak menunggu sakit dan tak menunggu tua. Siapapun tak ada yang menjamin masih ada usia untuk melihat esok hari.
Ya Allah jagalah orang-orang yang kusayang kala jauh dan dekat. Jagalah diri dan kehormatan kami, jadikanlah kami keluarga di dunia dan akhirat, dan wafatkanlah kami dalam husnul khotimah.
Tuesday, 3 December 2019
Lama Tak Bersua
Sudah lama sekali tidak menulis di blog ini
Begitu banyak hal yang sudah terlewati
Namun belum sempat kutulis di sini
Membaca tulisan saya beberapa waktu lalu
Saya tersenyum sendiri terkenang masa itu
Masa di mana saya sedang mengalami beberapa kegalauan dalam hidup
Baik itu terkait karir saya
Hubungan sosial saya
Juga tentang jodoh saya
Hehehe namanya juga anak usia 25 tahun
Quarter Life Crisis katanya
Sekarang saya sudah berusia 27 tahun
Begitu banyak hal, pengalaman, dan keputusan besar
Yang telah saya ambil hingga saat ini
Sepertinya saya mulai tertarik untuk menulis lagi
Supaya saya bisa meninggalkan banyak cerita
Seperti tagline di blog ini
"Waktu terus bergerak menjauhi kita,
maka yang bisa kutinggalkan hanyalah jejak-jejak cerita"
Semoga suatu saat nanti beberapa tahun lagi
Belasan tahun lagi, puluhan tahun lagi
Atau mungkin ketika saya tak ada lagi
Tulisan saya bisa memberikan kenangan dan nilai tersendiri
Monday, 8 April 2019
Bangkit
Menghadapi Insiden di Jalan
Hari ini aku bersyukur karena Allah masih melindungi aku di jalan. Benturan yang terjadi tidak menimbulkan luka, tidak mengakibatkan kerusak...
-
Beberapa bulan ini saya hampir jarang menghabiskan waktu di rumah saat weekend . Kalaupun di rumah, saya hanya bisa satu hari saja, kemudia...
-
kemarin saya hendak pergi ke luar kota, senang sekali karena perjalanan akan semakin mudah dengan adanya jalan tol. saya pikir akan sam...
-
Kita bisa mendengarkan kata semua orang. tapi kita tidak bisa mengikuti semua kata orang Adil itu tidak bisa terdefinisikan. yang dirasa ad...



