Monday, 12 June 2023

Pertolongan Allah

Allah memberi kita cobaan untuk menguji apakah kita termasuk orang yang beriman. Ujian berupa kesusahan untuk menguji apakah kita bersabar atau lantas berputus asa dari rahmatNya. Ujian berupa kenikmatan untuk menguji apakah kita bersyukur atau lantas merasa ini semua adalah buah kerja keras kita semata dan lupa bahwa semua adalah karunia-Nya.

Maka panjatkanlah apapun kepada Allah. Saat kita senang ceritakanlah rasa syukur kita, bahagia kita, rasa terima kasih kita kepada Allah. Dan jangan ragu untuk menceritakan tentang rasa sedih, gundah, putus asa, pasrah, bahkan saat kita kehabisan kata-kata dan hanya air mata yang sanggup kita tuangkan di atas sajadah.

Semoga kita senantiasa mengingat Allah kala suka dan duka menghampiri hidup kita. Karena sesungguhnya Allah itu dekat dan pertolongan Allah itu dekat. Kitalah yang seringkali menjauh dari-Nya. Tapi sejauh apapun itu jangan menyerah untuk kembali kepada Allah. Yakinlah Allah akan memberikan pertolongan kepada kita.

_______________________________________


Kepada siapa aku harus meminta pertolongan?

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

-Surat Al-Fatihah, Ayat 5

Musa berkata kepada kaumnya, “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi (ini) milik Allah; diwariskan-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

-Surat Al-A'raf, Ayat 128


Kenapa aku harus meminta pertolongan kepada Allah?

Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolong kamu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.

-Surat Ali 'Imran, Ayat 160


Bagaimana caranya aku meminta pertolongan kepada Allah?

Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.

-Surat Al-Baqarah, Ayat 153


Kapan pertolongan Allah datang?

Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, "Kapankah datang pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.

-Surat Al-Baqarah, Ayat 214


Sedekat itukah? Apakah kita benar-benar akan diberi pertolongan oleh Allah?

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.

-Surat Al-Baqarah, Ayat 186

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.....”

-Surat Ghafir, Ayat 60


Lalu bagaimana caranya agar kita bisa dekat dengan Allah dan merasakan pertolongan itu?

Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.

-Surat Al-Baqarah, Ayat 152

Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.

-Surat Al-A'raf, Ayat 56


Tuesday, 16 May 2023

Ke Mana Jiwa Kita Saat Sedang Tidur?

Aku baru tahu kalau sebenarnya setiap hari kita "mati" saat tidur. Mungkin itulah mengapa inti doa sebelum tidur adalah 'dengan nama Allah yang menghidupkan dan mematikan', karena memang di saat kita tidur tersebut Allah sedang menggenggam jiwa kita. Kalau bukan karena kehendak Allah mungkin kita nggak akan bangun lagi.

Oleh karena itu sebelum tidur hendaknya kita sudah menunaikan apa yang menjadi kewajiban kita dan kita tutup dengan dzikir, misalnya setidaknya kita sudah sholat isya lalu sudah berwudhu dan kemudian berdoa.

Kalau kita tahu ada kemungkinan kita nggak akan kembali lagi maka momen sebelum tidur pun bisa dijadikan momen untuk muhasabah apa saja yang sudah kita lakukan seharian. Kita bisa mensyukuri apa saja yang kita lalui hari itu. Sekali-kali kitapun bisa mencoba mengevaluasi diri. Bagaimana sholat kita, sudah tepat waktukah, sudahkah kita membaca Al Qur'an, sudahkah kita bersedekah hari ini? Adakah yang kita sakiti atau rugikan hari ini? Sudah minta maafkah kita? Adakah yang masih menyesakkan dada ini? Sudah memaafkan kah kita?

Memang ada kalanya hari kita terasa berat sehingga kita berharap semua ini hanya mimpi dalam tidur kita. Maka sebelum tidur kita titipkan saja semuanya kepada Allah. Yakinlah bahwa semuanya pasti akan selesai dan terlewati. Tenang. Ada Allah. Kalau jiwa kita saja bisa diambil dan dikembalikan sewaktu-waktu apalagi masalah kita yang tersulit sekalipun. Maka seberat apapun masalah, laluilah dengan cara yang diridhoi Allah dan serahkanlah semuanya kepada Allah. Tidak ada hal yang mudah kecuali yang Allah mudahkan dan hal sulitpun akan menjadi mudah jika Allah menghendakinya untuk menjadi mudah. Dengan keyakinan demikian maka pikiranpun akan lebih rileks, insya Allah tidur pun menjadi berkualitas.

Kemudian apabila setiap pagi kita ternyata masih bisa membuka mata, berarti setiap hari adalah hadiah bagi kita. Hadiah itu bernama waktu dan kesempatan. Ya, ternyata Allah masih memberi kita waktu untuk memperbaiki diri. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan semua itu. Jangan takut, malu atau ragu untuk kembali kepada Allah. Tidak ada kata terlambat untuk berubah menjadi lebih baik. 
Semoga kita tergolong orang yang mampu memanfaatkan waktu dan kesempatan dengan sebaik-baiknya. Selamat membuka dan memanfaatkan hadiahmu.

Boalemo, 16 Mei 2023

_____________________________________________
Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai batas yang ditentukan.Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir.
-Surat Az-Zumar, Ayat 42

Doa sebelum tidur

بِاسْمِكَ اللهُمَّ أَحْيَا وَأَمُوْتُ

Bismika Allâhumm ahyâ wa amût.

Artinya: Ya Allah! Dengan nama-Mu, aku hidup dan dengan nama-Mu pula aku mati

Doa bangun tidur

الحَمْدُ لِلهِ الًّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ

Alhamdulillâhil ladzî ahyânâ ba‘da mâ amâtanâ wa ilaihin nusyûr

Artinya: "Segala puji bagi Allah, Tuhan yang menghidupkan kami setelah Ia mematikan kami. Kepada-Nya lah kebangkitan hari Kiamat."

Saturday, 13 May 2023

Bahagia bukan Tujuan

Ternyata Allah tidak menyuruh kita untuk bahagia. Oleh karena itu tidak ada perintah bahwa kita harus bahagia di dalam Al Qur'an. Kenapa gitu yah? Kalau dipikir-pikir memang sulit bagi kita mendefinisikan kebahagiaan. Bahagia mungkin bisa sesederhana dengan minum es teh yang enak saat siang yang panas, mungkin bahagia orang lain harus punya banyak harta dan memiliki jabatan atau bisa juga bahagia itu saat kita memiliki orang yang menyayangi kita, dll. Bahagia memang seluas dan seabstrak itu.

Tapi kalau kita mendefinisikan suatu perasaan "tidak takut" maka apa yang di benak kita adalah perasaan "berani", mungkin juga suatu perasaan "tenang" atau "tidak khawatir". Kemudian apabila kita mendengar kata "tidak bersedih hati" maka apa yang di benak kita adalah suatu perasaan yang sebaliknya yaitu "rasa senang". Jika sedih biasa diikuti dengan tangis maka tidak sedih bisa juga berarti adanya "tawa" atau perasaan "gembira".

Mungkinkah Allah tidak ingin kita bingung atau menghabiskan banyak waktu mencari bahagia yang definisinya sangat luas itu? Oleh karena itu Allah telah memberi tips agar kita tidak takut dan bersedih hati yaitu dengan melakukan hal-hal sebagai berikut:
- Mengikuti petunjuk-Nya
- Beriman kepada Allah
- Beriman kepada hari akhir, berarti mengingat bahwa dunia ini bersifat sementara;
- Senantiasa berbuat kebaikan;
- Berserah diri kepada Allah;
- Berinfaq di jalan Allah dan tidak menyebut-nyebutnya sehingga menyakiti perasaan penerima;
- Mendirikan Sholat;
- Menunaikan zakat;
- Bertakwa kepada Allah;
- Terus berupaya melakukan perbaikan (diri dan sekitarnya).

Ternyata Allah tidak meminta "bahagia" itu menjadi tujuan kita tapi Allah ingin kita mengikuti apa yang Allah ridhoi, sehingga rasa takut dan sedih tidak akan mengikuti kita. Bahkan Allah menceritakan bahwa rasa tidak takut dan tidak sedih adalah perasaan orang yang masuk ke dalam surga sebagaimana dalam Surat Al A'raf ayat 49 yang berisi "Masuklah kamu ke dalam surga! Tidak ada rasa takut pada kamu dan tidak pula kamu akan bersedih hati.”

Kalau demikian, bukankah memiliki perasaan tidak takut dan tidak bersedih hati berarti sebuah kebahagiaan? Maka ikuti saja apa yang diperintahkan Allah maka kebahagiaan tanpa dicari pun akan mengikutimu.

Boalemo, 12 Mei 2023

_____________________________________________
Kami berfirman, “Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
-Surat Al-Baqarah, Ayat 38

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Ṣābi’īn,siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.
-Surat Al-Baqarah, Ayat 62

Tidak! Barangsiapa yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.
-Surat Al-Baqarah, Ayat 112

Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang diinfakkannya itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.
-Surat Al-Baqarah, Ayat 262

Sungguh, orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, melaksanakan salat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.
-Surat Al-Baqarah, Ayat 277

Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan bergirang hati terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka,bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.
-Surat Ali 'Imran, Ayat 170

Para rasul yang Kami utus itu adalah untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barang siapa beriman dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.
-Surat Al-An'am, Ayat 48

Wahai anak cucu Adam! Jika datang kepada kamu rasul-rasul dari kalanganmu sendiri, yang menceritakan ayat-ayat-Ku kepada kamu, maka barang siapa bertakwa dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.
-Surat Al-A'raf, Ayat 35

Wahai anak cucu Adam! Jika datang kepada kamu rasul-rasul dari kalanganmu sendiri, yang menceritakan ayat-ayat-Ku kepada kamu, maka barang siapa bertakwa dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.
-Surat Al-A'raf, Ayat 35

Monday, 24 October 2022

Hidup Dalam Layar

Begitu tergantungnya kita dengan gadget atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan gawai. Ketika bangun pagi, tangan langsung meraba di mana gawai diletakkan. Padahal niatnya hanya melihat jam tetapi ternyata banyak notifikasi pemberitahuan yang belum kita buka. Penasaran kita bukalah satu per satu. Tak terasa telah lewat 15 menit sejak azan subuh berkumandang. Tanggung dalam hati. Akhirnya setelah 30 menit barulah kita beranjak dari tempat tidur.

Selesai sholat kembali kita lihat gawai barangkali ada pesan yang belum dibuka. Lalu kita bersiap berangkat kerja dan sampai di tempat kerja gawai jua yang menjadi hiburan. Baru mengetik dua halaman kita sudah bosan lalu kita buka gawai kita. Bila perlu kita sambungkan jua ke laptop supaya notifikasi mudah kita lihat dari layar laptop sembari kita bekerja.

Saat makan siang kita pergi untuk makan dan kemudian kita makan sambil melihat gawai. "Ada postingan apa ya, wah ini lucu deh, ooh ini yang baru ramai dibicarakan" dan sebagainya. Selepas makan siang kita kembali ke kantor, tapi masih ada waktu istirahat, kita bisa leluasa menertawakan akun-akun receh di sosial media. Hingga akhirnya kita lanjutkan pekerjaan (sambil melihat gawai) sampai waktu pulang tiba. 

Sesampainya di rumah betapa leganya bisa merebahkan badan apalagi kalau sambil membuka linimasa sosial media. Pasangan kitapun melakukan hal yang sama. Akhirnya rumah hanya sebagai tempat tinggal yang sama bukan tempat tinggal bersama. Badan kita, fisik kita memang di tempat yang sama tapi hati dan pikiran kita tidak ada di sana.

Anak kita penuhi dengan berbagai permainan dan fasilitas yang terbaik sebagai penggugur kewajiban orang tua. Kalau perlu diberikan gawai juga supaya puas melihat video-video kesukaannya entah apa ya yang dia suka, entah siapa nama teman sebangkunya di sekolah, sepertinya kita sudah lupa, atau tidak pernah tahu(?)

Malam semakin larut dan tanpa sadar kita tertidur begitu saja.

Begitulah rutinitas kehidupan kita. Semua berulang setiap hari dan tanpa sadar kita kehilangan banyak waktu dan kenangan. Waktu yang kita gunakan untuk bermunajat padaNya, waktu berbagi cerita dengan pasangan, waktu bermain dengan anak, waktu makan bersama, waktu untuk bekerja yang maksimal, waktu untuk memperhatikan lawan bicara, waktu untuk sekedar berbincang dengan kawan, waktu untuk memperhatikan sekitar. Ternyata semua berlalu begitu saja. Waktu kita lebih banyak dihabiskan pada dunia yang ada pada layar. Perlahan kita pun kehilangan dunia kita yang sebenarnya.

Letakkan sejenak gawaimu, lihat sekitarmu, dan nikmatilah momenmu.

Boalemo, 2022

Mencari Makna dalam Sepi

 


dulu aku pikir duduk sendirian menatap bulan itu terlihat seperti orang yang sedang kesepian. tapi ternyata justru dalam kesendirian itu aku bisa membuat jeda untuk mengenal diri lebih dalam. mensyukuri apa yang telah dilewati, mempersiapkan diri untuk apa yang hendak dihadapi. ternyata, dunia ini tidak sepi sepanjang kepala kita masih mengetahui untuk apa kita ada di sini.

setelah menghadapi banyak hal aku baru menyadari bahwa kesepian yang sebenarnya adalah ketika kita telah melakukan banyak hal, mendapatkan banyak hal, dikelilingi banyak hal, tapi tak merasakan apa apa. sebuah hidup tanpa tujuan.

aku ingin hidup yang bukan sekedar hidup. karena ada yang membedakan kita, manusia, diantara semua makhluk hidup, yaitu akal dan pikiran.

dunia ini sudah dipenuhi oleh jutaan atau bahkan milyaran manusia. kita hidup di bumi, sebuah bagian yang sangat kecil di dalam tata surya.

besar dan indahnya alam semesta menunjukkan bahwa semesta ada karena ada Sang Pencipta.
teraturnya alam semesta menunjukkan bahwa semesta ada karena diatur oleh Yang Maha Mengatur segalanya.

kita diciptakan pasti ada tujuannya.
segala sesuatu terjadi pasti ada hikmahnya.

pernahkah kita berpikir untuk apa kita ada?
apa tujuan hidupmu hingga hari ini?
_______________________

sebuah catatan lama
dan foto selumbari malam

Sunday, 31 October 2021

Yogyakarta(ku)

Tahun 2010 adalah saat pertama kali saya pergi ke Yogyakarta bersama teman-teman untuk ujian mandiri di sebuah kampus di sana. Sehari sebelum ujian tulis, teman saya mengajak keliling di sekitar kampus. Bagi saya Yogyakarta itu seperti ada magnetnya. Melihat suasana kampus di sana dalam hati terbersit "suatu saat kayaknya aku bakal tinggal lama deh di sini tapi nggak tau untuk apa". Terpikir begitu saja. Bagi saya pikiran itu hanyalah angin lalu. Ujian tulis berlalu dan ya, sudah bisa ditebak hasilnya bahwa saya tidak lulus. Haha.

Ternyata Allah punya rencana lain. Saya tetap bisa ke Yogyakarta untuk menempuh studi. Tapi melalui ujian SNMPTN, bukan melalui ujian mandiri. Bukan di Fakultas Kedokteran seperti awalnya tetapi di Fakultas Hukum. Plot twist. Benar-benar di luar dugaan saya. Kemudian saya pun tinggal di sana selama hampir 7 tahun. 7 tahun yang penuh suka duka jatuh bangun tawa dan tangis. Dari tangis kecewa sampai tangis bahagia ada di sana. 

Sekarang saya sudah meninggalkan Yogyakarta pindah dari satu pulau ke pulau yang lain. Maka tidak heran saat saya jauh dari Yogyakarta, rasanya seperti ada yang kurang. Kalau kata Anang, separuh jiwaku pergi ~~ Rasanya saya rindu sekali dengan kota itu. Rindu kulinernya, jalan-jalannya, suasananya, pokoknya semua hal di sana memorable sekali. 

Hingga akhirnya pernah suatu hari saya sengaja meluangkan waktu libur seharian khusus untuk datang lagi ke Yogyakarta. Saya pergi ke tempat makan dan tempat jalan yang dulu sering saya kunjungi ketika masih tinggal di sana. Tapi ketika saya makan seperti ada yang kurang, ketika saya menikmati jalanan Yogyakarta, seperti ada yang kurang.

Setelah itu barulah saya tersadar bahwa ternyata saya tidak sekedar rindu dengan Yogyakarta. Lebih dari itu. Saya rindu dengan momen-momen kebersamaan bersama teman-teman. Meskipun hanya bercanda saat di perjalanan, bosannya kami ketika harus menunggu teman yang telat datang, bingungnya kami hanya untuk menentukan mau makan di mana, randomnya kami tiba-tiba pergi ke mana, ataupun sekedar candaan atau celotehan ketika kami bersama, atau momen-momen ketika kami saling menghibur dan saling menguatkan.

Kalaupun waktu bisa dibeli, sepertinya saya tidak akan mampu membelinya karena semua momen-momen itu sangat mahal dan berharga.

Hargailah setiap momen yang kita lalui saat ini, karena mungkin suatu hari nanti kita akan merindukan hari ini. Karena kembali ke tempat yang sama belum tentu akan memberi kita rasa yang sama.

Terima kasih untuk semuanya yang sudah membuat saya merasakan makna "Jogja yang Berhati Nyaman".

Terima kasih Yogyakarta. Tempat 'tuk mengejar cita, menemukan cinta, dan meninggalkan banyak cerita.

Jauh dari Yogyakarta, 31 Oktober 2021

"..Terbawa lagi langkahku ke sana, mantra apa entah yang istimewa.. Ku percaya selalu ada sesuatu di Jogja.." (Sesuatu di Jogja - Adhitia Sofyan)

Sunday, 17 October 2021

Menunggu atau Mendahului

 

Sudah lama saya tidak menulis di blog ini sampai-sampai saya bingung apa yang hendak saya tuliskan. Oke sepertinya bisa dimulai dengan bring back memories terhadap sebuah foto. Ini foto yang saya pilih untuk diceritakan. Sebenarnya foto di atas saya ambil pada bulan April 2021, di Boalemo, tempat saya tinggal saat ini. Di sini memang banyak gerobak sapi. Tapi foto itu membuat memori saya kembali pada suatu hari di Bandar Lampung.

Suatu hari saya sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat, kebetulan saya tidak melewati jalan utama saat itu dan lebih memilih melewati jalan di tengah pemukiman. Tapi ternyata saat itu jalan yang saya lewati macet panjang sekali. Entah apa yang menyebabkan lalu lintas tidak lancar. Padahal di hari biasa tidak sepadat itu. Saking penasaran, maka saya tengok keluar untuk mencari tahu ada apa di ujung sana. Setelah saya menengok keluar ternyata jalanan hampir macet karena di ujung jalan ada gerobak sapi yang jalannya pelan sekali. Bentuk gerobak sapinya mirip dengan foto yang saya ambil di atas tetapi kondisi jalannya tidak sesepi itu. Seingat saya kondisi jalan saat itu hanya dua jalur berlawanan arah yang sama padatnya, sehingga tidak memungkinkan bagi saya untuk mendahului kendaraan di depan saya.

Hihihi lucu juga ya, ternyata mesinpun tetap harus mengalah kepada sapi. Lalu pikiran saya berkelana. Kendaraan sebaik dan secanggih apapun di jalan raya, kalau jalanan itu tidak cukup lapang untuk dilewati, kalau jalanan itu ada kendaraan lain yang tidak bisa didahului, maka pengendara hanya bisa menunggu sebentar hingga ada kesempatan untuk mendahului kendaraan di depannya.

Begitupun dalam kehidupan. Terkadang bekal dan kelebihan yang masing-masing kita punya ternyata belum cukup untuk membawa kita menuju tempat yang kita inginkan. Pikiran yang sering terdistraksi dengan pencapaian orang lain membuat kita seringkali berprasangka buruk kepada Allah. Kita melihat orang lain dengan mudahnya mendapatkan apa yang kita inginkan, ada perasaan marah mengapa kita tidak jua sampai pada ambisi itu. Hal seperti ini apabila tidak bisa kita kendalikan maka bisa membuat kita lupa diri dan memaksakan jalan yang seharusnya, kita merasa paling tahu apa yang terbaik dengan melakukan segala cara untuk melampauinya. Kita lupa bahwa di samping usaha yang maksimal masih ada faktor lain yang mempengaruhi. Mungkin belum waktunya, mungkin saja waktunya sudah memenuhi tapi belum ada kesempatan, mungkin memang kita dinilai belum mampu mengembannya atau mungkin faktor-faktor lainnya di luar kendali kita yang tidak perlu kita ketahui.

Kita bisa saja memaksakan jalan meski belum waktunya, tapi yang namanya memaksakan jalan pasti kita akan melangkah melalui jalan yang tidak seharusnya dan langkah kita akan mengganggu harmonisasi yang ada, parahnya malah bisa mengambil hak atau kepentingan orang lain.

Berdoalah sejak awal untuk diberikan yang terbaik, usahakan sebaik mungkin, lalu sisanya nikmati saja perjalanannya. Ada kalanya jalan itu sempit dan sulit. Tapi hindarilah terus terpaku melihat sempitnya jalan dan alihkan pandangan kita dengan melihat indahnya pemandangan atau betapa serunya lalu lalang di sekitar. Karena sebenarnya kita sedang menuju tempat terindah. Qadar yang terindah.

Percayalah, akan ada waktunya. Rezeki tak akan pergi. Kelak di waktu yang tepat, kesempatan itu, jalan itu, peluang itu, akan kita dapatkan.

Boalemo, 17 Oktober 2021

---------------------------------
---------------------------------

Dari Ibnu Masud radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa salam bersabda“Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8: 166, hadits shahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no. 2866)

Menghadapi Insiden di Jalan

Hari ini aku bersyukur karena Allah masih melindungi aku di jalan. Benturan yang terjadi tidak menimbulkan luka, tidak mengakibatkan kerusak...