Friday, 8 August 2025

Pemimpin yang Melihat dan Menghargai



Saat itu saya menghadap Ketua untuk membahas perihal surat tugas sekaligus menyampaikan terima kasih dan maaf atas segala interaksi selama kami bekerja bersama.Kesan-kesan yang beliau sampaikan membuat saya merasa memiliki pemimpin yang melihat dan menghargai, sedangkan pesan-pesan yang beliau sampaikan akan saya bagikan juga di sini:

1. Tegas Itu Tidak Harus Konfrontatif

“Tetaplah bersikap tegas, sikap tegas yang tidak harus konfrontatif.”

Ketegasan yang tidak konfrontatif bisa menjadi jembatan. Sikap tersebut membantu pimpinan mengambil keputusan karena menciptakan ruang diskusi yang sehat, bukan penuh ketegangan.

Ternyata, ketegasan tidak harus disampaikan dengan berteriak, ketegasan juga bisa disampaikan dengan tenang tanpa mencederai.

2. Genggam Erat Orang-orang Baik

“Kalau bertemu orang yang menurutmu baik dan nilai dirinya sejalan denganmu, genggamlah erat hubungan itu. Karena belum tentu kamu akan bertemu lagi orang seperti itu.”

Kita sering menganggap rekan kerja hanya bagian dari sistem. Tapi pesan ini mengingatkan saya bahwa di balik struktur, ada manusia. Ada hubungan yang, jika dijaga dengan tulus, bisa menjadi kekuatan yang tak tergantikan.

Relasi yang sehat bukan hanya memperlancar kerja, tapi juga memperkuat dalam menjalani hari-hari kerja yang melelahkan. Apabila kita bisa menemukan orang yang kita nilai baik dan sejalan, apalagi yang bisa kita jadikan contoh, itu adalah hubungan yang patut kita jaga dengan baik.

3. Integritas tidak boleh membuat seseorang menjadi jumawa

“Integritas tidak terjadi dalam satu malam. Ia adalah buah dari konsistensi. Tapi kalau kita mampu menjaganya, jangan sampai menjadikan kita jumawa. Tetap berbuat baik pada siapapun, siapa tahu kelembutan atau kebaikan kita bisa membuka hati orang lain yang berjalan bersama kita.”

Integritas sering dipandang sebagai sesuatu yang besar, tapi sesungguhnya, ia dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang jujur, bahkan saat tidak ada yang melihat. Dan ketika orang mulai dikenal karena integritas, di situlah godaan baru muncul: merasa lebih baik dari orang lain. Oleh karena itu Pak Ketua mengingatkan untuk tetap rendah hati, tetap manusiawi, tetap berbuat baik pada siapapun.

Kita tidak pernah tahu apa yang dialami orang lain, bisa saja orang yang kita anggap kurang baik suatu saat menjadi jauh lebih baik dari kita. Maka kita harus menjaga hati agar tidak merasa lebih besar atau merasa lebih baik daripada orang lain.

...

Tiga pesan itu menjadi bekal untuk melangkah. Ternyata langkah saya bukan untuk meninggalkan, tapi "berangkat" untuk tujuan yang lebih besar.

Terima kasih, Pak Ketua, Bapak Jayadi Husain, S.H., M.H. Terima kasih telah melihat bukan hanya apa yang saya atau rekan saya kerjakan, tapi juga menghargai siapa kami saat menjalaninya. Semoga setiap kebaikan yang Bapak tinggalkan menjadi amal yang tidak terputus.

Surat tugas sudah dijalankan, dan saat ini saya telah berpindah tugas, tapi warisan nilai dari kepemimpinan Bapak akan terus saya bawa, ke manapun kaki ini melangkah.

Berangkat dari Tilamuta
Agustus 2025

Monday, 4 August 2025

Tentang Seorang Kakak yang Selalu Siaga

Saat aku menulis ini, kamu sedang terbaring di ruang ICU, dan aku tak bisa berada di sisimu. Padahal ada begitu banyak hal yang ingin aku ucapkan. Maka biarkan malam ini aku bicara melalui jemariku, sebagai seseorang yang hatinya penuh rindu dan syukur ditakdirkan sebagai adikmu.

...

Sejak kecil sampai sekarang, kamu selalu jadi orang yang paling siaga. Waktu aku masih SD sampai SMP, saat itu kita tinggal bertiga di rumah. Bapak dan Mama udah pindah kerja, Mas Adi masih kuliah di Bandung, jadi tinggal kamu, aku, dan mbak Antik, yang waktu itu masih sekolah, dan kamu sedang kuliah. Kamu yang selalu jemput aku pulang sekolah. Kamu cari jadwal kuliah yang katamu ga akan tabrakan dengan jam pulang sekolahku, juga jam lesku, kamu selalu pastikan kalau kamu pasti bisa antar-jemput aku. Kamu tidak pernah bilang itu pengorbanan, tapi aku tahu sekarang: itu bentuk perhatian dan kasih sayang yang besar.


Waktu dunia ini belum ada internet, kamu mengajakku ke tempat persewaan buku. Dari aku pinjam Bobo, Donal bebek, Conan, Smurf, Witch, majalah remaja, Chicken Soup for the Soul, sampai buku atau majalah yg isinya inspirasi kehidupan, wkwk itu semua aku lalui bersama kamu. Mengajak sewa buku itu sederhana, menyewa buku itu ga mahal, tapi ternyata hal yang tidak mewah itu membuat aku tumbuh dengan berani bermimpi dan selalu belajar berempati. Hal yang ternyata saat ini tidak mudah ditemui.


Waktu aku gagal masuk kelas bahasa inggris di SMA, kamu yang mengantarku mengambil hasilnya, kamu nggak marah atau kecewa, atau menghiburku yang gimana-gimana, kamu cuma bilang "gapapa berarti bukan rezekimu, kamu kan dari SD selalu dapat yg kamu kejar di sekolah, jadi gapapa kalau sekali-sekali ga dapat, Allah cuma lagi ngasih tahu kamu gimana rasanya kalau ga dapat yg kamu minta supaya nanti suatu saat kamu dapat yang lebih, syukurmu jadi tambah besar." Mungkin kamu udah lupa apa yang kamu bilang tapi kata-katamu jadi penguatku sampai sekarang tiap aku menemui sesuatu yang ga sesuai harapanku.


Sampai aku dewasa, kamu tetap menjadi orang yang paling cepat datang kalau aku butuh. Saat aku pulang atau pergi merantau, kamu yang mengantar dan menjemput ke bandara atau stasiun. Bahkan saat aku ditempatkan di Lampung, kamu yang mengantar mobil ke sana agar aku bisa lebih leluasa. Dan ketika aku mau cuti melahirkan saat pandemi COVID, kamu yang menjemput aku pulang dari Lampung. Kita menempuh perjalanan jauh naik mobil, dan meski dunia terasa genting, aku merasa aman karena kamu yang nyetir.


Kamu juga yang sigap untuk anak-anakku. Setiap kali mereka sakit, dan aku jauh, kamu yang selalu datang dan mengantar mereka ke rumah sakit, meski di tengah malam. Sama halnya ketika Bapak sakit. Kamu datang dalam sekejap. Kemudian kamu mijit Bapak jam satu pagi, jam tiga pagi, seolah kamu tidak kenal lelah. Waktu kamu lulus kuliah kamu ditawarin Bapak lanjut S-2 tapi kamu ga mau, kamu bilang kamu mau hidup di desa aja, supaya dekat orang tua, supaya kamu bisa siaga kalau Bapak dan Mama butuh apa-apa. Kamu ga peduli meski dibilang sarjana tapi kok di sawah, sarjana tapi kok pilih di kandang, sarjana tapi kok ga kemana-mana. "Memangnya kenapa, yang penting halal" adalah jawaban andalanmu.


Suatu hari aku bilang kalau aku mau daftar CPNS yang penempatannya seluruh Indonesia, awalnya aku ragu tapi kamu semangat banget, kamupun bilang "lanjut Na, tenang aja Bapak sama Mama nnt yang ngurus aku" sampai akhirnya aku diterima dan ditempatkan dari satu kota ke kota lain, dari satu pulau ke pulau lain, itu adalah kata-kata yang selalu kamu bilang setiap kita pisah di stasiun atau bandara sampai sekarang.


Meski kamu totalitas pada keluarga, kamu tidak pernah melupakan keluarga intimu, istrimu dan anak-anakmu. Meski terlihat keras sebenarnya hatimu tidak sekeras itu, buktinya kamu tetap jadi idola bagi anak-anakmu, entah bagaimana anak-anakmu kalau ditanya ingin jadi apa, jawabannya "ingin seperti Abi".


Kamu tidak pernah menunggu diminta tolong. Kamu selalu datang lebih dulu, hadir sebagai penjaga yang tidak pernah minta ucapan terima kasih. Tapi hari ini, izinkan aku bilang: terima kasih. Untuk setiap jemputan, pijatan, pelukan, dan ketulusan yang kamu berikan tanpa syarat.


Aku tahu, kamu tidak suka menjadi pusat perhatian. Tapi kamu harus tahu: kamu adalah pusat dari banyak hal baik dalam hidupku. Dalam hidup keluarga kita.


Sekarang, tubuhmu sedang beristirahat lebih lama di atas tempat tidur yang dingin di ruangan asing itu. Tapi aku tahu hatimu sedang berjuang. Dan dari jauh, aku menjaga kamu lewat doa-doa yang tidak putus.


Pulanglah, kamu yang selalu siaga. Dunia kami terasa senyap tanpamu. Rumah ini menunggumu. Aku menunggumu. Bukan hanya sebagai adik, tapi sebagai seseorang yang ingin sekali membalas semua kebaikanmu, meski aku tahu, itu tidak akan pernah cukup.


Ya Allah sembuhkanlah, sehatkanlah, Mas Bambang, kakak pertamaku, yang menemani banyak hal pertama dalam hidupku

Minahasa Utara, 4 Agustus 2025

Monday, 28 July 2025

PN Tilamuta: Seberkas Cahaya untuk Peradilan yang Agung

Di tengah krisis kepercayaan masyarakat terhadap institusi yang menegakkan keadilan di negeri ini,

ketika ruang sidang tak lagi selalu dipercaya,

ketika vonis dianggap tak mencerminkan nurani,

dan ketika suara-suara kehilangan tempat untuk berharap,

aku ingin kamu menengok sebuah tempat kecil, tempat mencari keadilan, yang mungkin luput dari perhatian.


Tempat itu bernama Pengadilan Negeri Tilamuta (PN Tilamuta).


Apakah kamu tahu bahwa putusan sesungguhnya bukan produk hakim, melainkan disebut sebagai produk pengadilan? Maka sudah semestinya upaya mewujudkan keadilan bukan hanya semangat dari pemutus perkara secara langsung, tapi juga dari unit-unit pendukungnya.


Meminjam ungkapan Sekretaris PN Tilamuta (Bapak Juang Samadi, S.Pd., M.H.), ditambah dengan apa yang aku rasakan, menurutku PN Tilamuta itu seperti ungkapan:

"Sebelum Hakim mengetuk palu dan Panitera Pengganti menorehkan penanya, kepaniteraan telah memastikan kelengkapan berkas sidang dan kesekretariatan telah memastikan kelengkapan ruang sidang, termasuk palu dan penanya"


Tidak mudah menemukan kesatuan elemen seperti itu apabila diselami lebih dalam makna dan senyatanya. 

PN Tilamuta seperti sebuah pengadilan yang mempersiapkan pengadil fokus mengadili dengan adil. Memberi sarana terbaik, juga menciptakan ruang aman dan nyaman untuk bekerja dengan baik. Aman itu berarti tidak ada intervensi dan nyaman itu berarti tidak banyak problematisasi.


Kamu mungkin tak percaya dengan apa yang aku sampaikan.

Tapi jujur, semua keluhan tentang tempat kerja yang rumit, tentang suasana kantor yang membuat sesak, tak pernah benar-benar aku rasakan.

Di sini, semua seolah berjalan sebagaimana mestinya.

Memang tak ada yang sempurna. Tapi di sini semua mengetahui dan menyadari porsinya.


Aku tidak tahu bagaimana pengalaman para pencari keadilan yang datang mencari keadilan di sini. Tapi aku pastikan selama detik pertama aku dan keempat rekanku melangkahkan kaki di sini, tak ada hal yang bisa mempengaruhi keyakinan kami. Setiap lembar yang kami bacakan adalah buah pikiran atas keyakinan kami dengan dasar hukum dan keadilan. Tentunya dengan sebaik-baiknya yang kami bisa usahakan.


Apa yang aku rasakan itu karena aku tidak berjalan sendiri.

Ada kebersamaan yang membuatku merasa ingin terus bertumbuh memberikan yang terbaik yang aku bisa.

Di sini aku mendapat dukungan dari pimpinan yang memberi ruang dan kepercayaan, teman-teman yang saling mengingatkan, juga rekan kerja yang saling menguatkan, semuanya bagian dari cahaya yang perlahan menyala dalam langkah-langkahku.


Meski Tilamuta 'hanyalah' sebuah pengadilan negeri yang jauh dari pusat keramaian,

atau mungkin membuat langkah awal terasa berat bagi mereka yang baru datang,

tapi saat kamu sudah benar-benar melihat dan merasakannya,

kamu tidak akan kehilangan harapan tentang bagaimana mewujudkan peradilan yang agung.


Tilamuta menguatkan harapan:

bahwa masih ada yang bekerja dengan hati,

yang menjunjung nilai,

dan percaya bahwa keadilan bukan sekadar produk hukum,

melainkan hasil dari kerja bersama manusia-manusia baik yang memegang teguh amanahnya.


Aku percaya kesan itu tak hanya aku rasakan sendiri tapi juga mereka yang pernah berada langsung di dalamnya, dan aku berharap nilai itu akan selalu ada di PN Tilamuta.


Jika suatu hari nanti kamu memiliki kesempatan berkunjung ke Tilamuta,

lihatlah baik-baik.

Karena di sini, harapan itu disemai

bukan dengan gegap gempita,

tetapi dalam diam, dalam dedikasi, dan dalam ketulusan yang tidak menuntut pengakuan.


Di sebuah titik kecil di peta, ada seberkas cahaya.

Cahaya itu tidak bersinar begitu saja,

tapi ia berasal dari generator yang rodanya terus berputar,

karena ada kekuatan bersama yang mengayuhnya.


Dan jika suatu saat nanti orang bertanya padaku,

“Dari mana semua harapan yang kamu sampaikan tentang peradilan yang agung itu berawal?”

Aku akan tersenyum dan berkata:

“Dari Pengadilan Negeri Tilamuta 😊”


Tilamuta, 29 Juli 2025

Kutulis dini hari seusai packing 

Pada hari terakhirku bertugas di PN Tilamuta 

Monday, 21 July 2025

Mencari Jalan Tidak Harus Memotong Jalan

Dalam hidup, kita seringkali dihadapkan pada pilihan-pilihan kecil yang sebenarnya menunjukkan nilai besar yang kita junjung. Kadang bukan soal aturan itu sendiri, tapi bagaimana kita menyikapinya. Bukan sekadar soal apa yang diatur, tapi bagaimana cara kita memenuhi aturan itu dengan cara yang tetap menjunjung rasa hormat dan tanggung jawab.

Ada perbedaan antara mencari jalan keluar dan memotong jalan. Yang pertama butuh usaha, niat baik, dan kesadaran bahwa segala sesuatu bisa disiasati dengan cara yang tetap elegan sesuai jalurnya. Yang kedua seringkali lahir dari keinginan untuk menyederhanakan sesuatu secara instan tanpa memikirkan dampak atau rasa yang terkandung di dalamnya.

Kita bisa saja berkata, "Ah, ribet banget, yang penting kan tujuannya sama," atau, "Ah, nggak apa-apa, toh ini hal kecil." Tapi dalam banyak hal, cara kita memperlakukan hal kecil justru mencerminkan siapa kita dalam hal besar. Karena hormat itu bukan hanya untuk hal yang penting, tapi untuk setiap proses yang mengandung niat dan tanggung jawab.

Mematuhi sesuatu bukan berarti kehilangan jati diri. Justru di sanalah kita diuji: bagaimana berpikir jernih dan solutif ketika keterbatasan datang. Mungkin kita harus meminjam, meminta tolong, atau menyampaikan alasan dengan jujur pada yang berwenang. Itu semua adalah bentuk usaha yang tetap menjaga integritas dan relasi. Kita tidak sekadar tunduk, tapi turut menjaga makna dari sesuatu yang ditetapkan.

Dan tentang menghormati orang lain, kadang itu bukan soal seberapa banyak kita menyebutkan namanya atau menyertakan mereka dalam rencana, tapi seberapa kita melihat niat baik mereka, memberi ruang bagi perhatian mereka, dan tidak dengan mudah mengabaikannya hanya karena sudah merasa cukup dengan pilihan sendiri.

Sering kita dengar ungkapan, “If there’s no way, create one.” Ungkapan ini sepintas terdengar menggambarkan tentang ketekunan dan pantang menyerah. Tapi menciptakan jalan pun sebenarnya tetap butuh arah. Karena menciptakan jalan bukan berarti membenarkan segala cara. Kita bisa saja menemukan alternatif, tapi jangan sampai niat mempermudah membuat kita kehilangan esensi.

Menciptakan jalan berbeda dari memotong jalan. Yang satu lahir dari kehati-hatian dan hormat terhadap nilai; yang lain kerap lahir dari ketergesaan. Maka jika jalan itu belum ada, ciptakan. Tapi jangan sembarangan. Pastikan jalan itu tetap berpijak pada niat baik, pada tanggung jawab, dan pada kebaikan bersama.

Pada akhirnya, hidup bukan soal siapa yang paling cepat atau paling mudah. Tapi siapa yang tetap berjalan dengan sadar, menjaga nilai dalam setiap langkah kecil, dan tidak menjadikan alasan sebagai pintu untuk mengurangi rasa hormat.

Dari hal kecil dan keputusan kecil sehari-hari kita sesungguhnya secara tidak langsung membentuk kita sekaligus menunjukkan nilai diri kita yang sebenarnya. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang tetap menjaga jalan yang benar, meski jalannya kadang terasa lebih panjang.

Monday, 14 July 2025

(Baru) Lima Tahun

Hari ini tepat lima tahun.

Lima tahun bukan waktu yang sebentar. Tapi juga bukan waktu yang cukup untuk dinilai tahu segalanya. Justru, dalam lima tahun terakhir ini, aku semakin sadar bahwa memahami hidup dan keadilan bukan soal seberapa banyak aturan yang kau hafal atau seberapa sering kau memutuskan sesuatu dengan yakin. Tapi tentang seberapa sering hatimu diuji untuk tetap menjadi manusia dan memanusiakan manusia di tengah sistem, di balik meja, atau bahkan di depan cerminmu sendiri.

Awalnya, aku pikir aku hanya perlu bekerja sebaik mungkin, menjalankan peran, menyelesaikan tugas, dan memastikan segalanya berjalan sesuai prosedur. Tapi ternyata, pekerjaan ini atau lebih tepatnya, perjalanan ini, membawaku lebih jauh. Ia mengubah cara pandangku tentang manusia, tentang luka yang tak terlihat, tentang harapan-harapan kecil yang menggantung di ruang yang sunyi dari tawa dan familiar dengan tangis.

Aku belajar bahwa tidak semua kesalahan lahir dari niat buruk. Kadang, orang hanya tersesat terlalu lama dan tak ada yang menuntunnya pulang. Aku juga belajar bahwa tidak semua yang menang merasa benar-benar menang, dan tak semua yang kalah berarti kehilangan segalanya.

Keadilan ternyata bukan hanya tentang memberi hukuman. Ia adalah tentang merawat rasa percaya orang-orang yang datang padamu. Mereka percaya bahwa kebenaran bisa ditegakkan maka mereka membawa masalahnya di hadapanmu. Akhirnya kamupun menyadari bahwa ketegasan tidak harus kehilangan empati. Bahwa kamu ingin bukan sekedar menatap berkas di depan matamu tapi juga bagaimana memulihkan keadaan yang dihadapkan padamu. Dan bahwa mendengar bisa lebih menyembuhkan daripada menghukum atas dasar balas dendam.

Dalam ruang itu, aku tak bisa selalu menjelaskan panjang lebar mengapa sebuah keputusan harus seperti itu. Aku juga tak boleh meminta maaf atas setiap kalimat yang mungkin terasa berat didengar. Karena di titik itu, aku harus yakin bahwa keputusan itu, setidaknya menurut yang aku tahu dan aku pahami dengan sebaik-baiknya dan sesungguh-sungguhnya, adalah keputusan yang adil.

Kerap suatu malam yang melelahkan, di balik semuanya, aku selalu menyelipkan doa. Untuk siapa pun yang pernah hadir di ruang itu, semoga hatinya lapang menerima. Semoga tahu ke mana harus melangkah setelah semua usai. Untuk mereka yang mungkin masih menyimpan luka atau kecewa, semoga kelak bisa memaafkan. Semoga yang sempat terputus, suatu saat bisa terajut. Dan yang pernah tersakiti, perlahan akan sembuh.

Di tempat pertama aku ditempatkan, aku tumbuh. Bukan karena aku hebat, tapi karena aku dipaksa belajar hal-hal yang tak pernah diajarkan di bangku sekolah atau kuliah: bersikap tenang dan netral dalam setiap keadaan, mendengarkan dengan sabar saat hati ingin menyela dan bertanggung jawab atas setiap kalimat yang terucap.

Di luar, aku belajar bersikap dewasa dalam keseharian, menahan aksi saat hati ingin bereaksi, menjaga perasaan di tengah tekanan, tetap hadir secara utuh meski kadang merasa lelah atau sepi.

Dari kedua ruang itu, aku mulai mengerti: menjadi dewasa bukan tentang tahu segalanya, tapi tentang sanggup menghadapi yang tak terduga dengan hati yang lega.

Hari ini, aku tidak ingin merayakan. Tapi aku ingin berterima kasih. Kepada Tuhanku yang selalu membukakan mata atas hikmah tersembunyi, kepada diriku sendiri yang pernah takut tapi tetap berjalan, kepada orang-orang yang hadir mendukung dengan caranya. Juga kepada setiap kisah yang pernah singgah di ruang itu, yang mengajarkanku menjadi manusia sebelum menjadi apa pun yang lainnya.

Lima tahun ini membentukku. Bukan menjadi siapa-siapa dan harus dikenal siapa-siapa. Tapi menjadi seseorang yang terus belajar memahami kehidupan dan terus belajar memaknai keadilan. Jangan berhenti.

Monday, 7 July 2025

Saat Pengumuman Mutasi

Mutasi itu seperti pembuka babak baru dalam lembaran perjalanan hidup. Tempat baru, lingkungan baru, adaptasi baru, dan tentu... harapan baru.

Saat pengumuman mutasi datang, banyak teman sejawat bersukaria karena akhirnya mendekati homebase, lebih dekat dengan pasangan, anak, atau orang tua. Saya termasuk yang belum mendekat. Sedikit kecewa pasti ada dan saya pikir itu wajar saja. Siapapun pasti juga punya keinginan  untuk dekat dengan kampung halamannya. Bedanya adalah bagaimana kita mengelola kesiapan hati kita setelah bertemu dengan realita. Meski begitu, anehnya saya tidak merasa sedih, justru lebih ke perasaan deg degan untuk memulai sesuatu yang baru.

Mungkin karena sejak awal saya tak pernah berdoa dengan menyebut lokasi tertentu. Saya hanya minta satu hal: ditempatkan di tempat yang terbaik menurut-Nya. Dan saya sadar, itu berarti tempat yang terbaik versi-Nya bisa jadi bukan tempat yang paling saya inginkan secara pribadi. Tapi saya belajar percaya bahwa sesuatu apapun yang datang kepada kita di luar kendali kita, pasti yang terbaik.

Tentu saja, hati kecil tetap ingin pulang. Ingin lebih dekat dengan keluarga. Tapi sisi lain dari hati kecil saya juga sadar: jika semua orang ingin dekat rumah, siapa yang akan bertugas di tempat yang jauh dari rumah? Dan apakah kedekatan geografis selalu menjamin kenyamanan atau kemudahan?

Saya takut menggantungkan hidup pada sudut pandang dan tolak ukur yang saya ciptakan sendiri. Maka saya belajar melepaskan, dan membiarkan langkah ini diarahkan pada sebagaimana mestinya.

Ini adalah mutasi pertama saya sejak menjalani jabatan ini. Rasanya berbeda dari sekadar penempatan saat diklat atau magang. Kali ini benar-benar terasa sebagai peralihan fase hidup. Maka ketika pengumuman keluar, saya mengucap hamdalah dan sempat terdiam. Bingung menentukan reaksi saya. Karena saya ingat: bukankah ini yang saya minta? Tempat terbaik. Bukankah berarti ini tempat terbaik yang disiapkan untuk saya?

Saya menelepon suami. Kami tertawa. Bukan tawa puas tapi juga bukan tawa yang merendahkan. Kami tertawa karena kami sama-sama tahu bahwa kami juga bingung harus bereaksi apa.

Kami kemudian mencari sisi lain yang pasti banyak baiknya. Misalnya ternyata, jarak ke bandara hanya setengah jam. Jarak ke ibukota provinsi juga setengah jam. Kantor saya dan suami pun hanya terpaut kurang dari satu jam. Kami mulai cari tahu tentang berbagai ragam jenis perkara di tempat baru, tempat ibadah terdekat, hingga suasana dan sejarah kota melalui YouTube.

Diskusi kami pun bergeser pada hal-hal praktis: Apa yang dibawa? Apa yang ditinggal? Apa yang dijual? Packingnya bagaimana?

Dan ternyata, karena tempatnya tak terlalu jauh, biaya mutasi pun jadi lebih hemat. Bukankah itu berkah juga? Alhamdulillaah

...

Malam ini saya duduk sendirian. Membaca ulang nama-nama dalam pengumuman mutasi. Rasanya seperti melihat peta yang digambar Sang Pencipta. Kita semua hendak berpindah. Berpindah ke tempat yang kita butuhkan dan juga membutuhkan kita. Saya yakin itu.

...

Lalu saya teringat perbedaan yang jelas antara momen sekarang dan lima tahun yang lalu. Saat pertama kali mendapat kabar penempatan ke Tilamuta, Boalemo, saya menangis. Saya bahkan belum pernah mendengar nama tempat itu sebelumnya. Rasanya begitu jauh dan asing. Dalam hati saya bertanya-tanya, apa saya bisa hidup jauh di sana?

Tapi setelah menjalaninya, lima tahun penuh warna, saya tahu bahwa tempat ini bukan sekadar titik awal. Ini adalah ladang tempat saya menanam dan bertumbuh. Tempat pertama saya memakai jubah, menjalani profesi ini dengan segala perjalanannya. Tempat pertama saya belajar tentang pekerjaan, tentang kemanusiaan, dan mengenal diri sendiri lebih dalam.

Andaikata saya bisa memutar waktu dan diberi kesempatan memilih, saya tetap akan memilih Tilamuta sebagai tempat pertama saya. Karena dari pengalaman ini saya belajar satu hal:
Sesuatu yang belum saya kenal tidak perlu ditangisi. Sebab kemungkinan baik selalu ada bahkan ketika kita belum bisa melihatnya.

Maka kali ini, ketika penempatan tidak sesuai ekspektasi, saya tidak menangis. Saya tersenyum. Saya penasaran: hal sebaik apa lagi yang akan saya temui kali ini?

Dan karena itu pula, saya ingin membagikan beberapa hal yang saya pelajari ketika menghadapi kenyataan yang tidak berjalan sesuai harapan.
  • Ingat kembali niat awal.
Terkadang kita kecewa bukan karena kenyataan itu tidak baik, tetapi karena kita lupa apa yang dulu kita minta. Seperti ketika dulu doa saya adalah “tempatkan saya di tempat terbaik”, maka mungkin inilah jawabannya. Meski alasannya belum kita temukan hari ini.

  • Bedakan antara harapan dan kendali.

Boleh berharap, tapi jangan lupa bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan. Fokuslah pada hal yang bisa kita atur: niat, sikap, usaha, dan keikhlasan.
  • Validasi setiap perasaan, tapi jangan tinggal di sana.
Beri ruang untuk merasa sedih atau tertegun. Itu manusiawi. Tapi jangan terlalu lama berdiam di ruang kekecewaan. Ajak diri perlahan untuk bangkit dan beradaptasi.
  • Carilah makna, bukan alasan.
Alih-alih bertanya "Kenapa ini terjadi padaku?", ubah pertanyaan menjadi "Apa yang bisa aku pelajari dari sini?" Perspektif ini akan mengubah beban menjadi bekal.
  • Buka mata pada kebaikan kecil yang tetap ada.
Terkadang di tempat yang tidak pernah kita kira, kita menemukan teman baru, pelajaran baru, dan banyak hal lain yang tidak kita sadari.
  • Percayalah pada waktu dan proses.
Kita mungkin belum bisa memahami semuanya sekarang. Tapi waktu punya cara untuk membuat kita paham mengapa sesuatu harus terjadi.

Pada akhirnya saya percaya ada banyak kebaikan yang menunggu saya di ujung jalan sana. Saya hanya harus menapaki jalan itu dengan yakin dan penuh keberanian, beserta dengan bekal yang saya punya.

Dalam perjalanan ini saya juga menyiapkan tas bekal yang tidak saya isi karena kelak di sanalah saya akan mengisi tas itu dengan pelajaran, hikmah, dan kenangan-kenangan yang indah.

Bismillaah..

Thursday, 3 July 2025

Catatan Singkat Menjelang Pengumuman Mutasi

Malam ini, katanya akan ada pengumuman mutasi. Isu seperti itu selalu saja ada, bahkan sejak lebih dari satu sampai dua tahun yang lalu. Tapi kenyataannya, selama ini hanyalah angin lalu.

Namun entah kenapa, kali ini terasa berbeda. Cepat atau lambat, waktu itu akan tiba. Sudah ada yang siap meneruskan jejak kami di sini. Jadi mau tidak mau memang sudah waktunya melanjutkan perjalanan. Aku tak tahu pasti apakah benar malam ini atau tidak, tapi jantungku seperti menyadari sesuatu.

Ada getar kecil di dada yang tidak bisa diredakan hanya dengan kata, “tunggu saja.” Bukan karena takut, bukan pula karena tidak siap. Tapi karena rasanya seperti... datang juga akhirnya waktunya.

Lima tahun terakhir, tempat ini bukan sekadar lokasi kerja. Ia menjadi ruang belajar, tempat bertumbuh, tempat mengenal rasa sabar dan sepi, tempat merawat makna dari sebuah pengabdian. Dan kini, ketika bisik angin mulai mengabarkan akan ada rotasi, tubuhku menggigil bukan karena dingin, tapi karena satu kesadaran:

Barangkali, waktuku di sini memang akan segera berakhir.

Perasaan menjelang mutasi itu unik. Campur aduk.

Seperti berdiri di pintu rumah yang sudah terasa nyaman, tapi tangan kita sudah menggenggam kunci rumah lain yang belum pernah kita masuki.

Ada deg-degan, tapi bukan panik. Ada tanda tanya, tapi bukan ketakutan.

Yang ada justru semacam ketenangan yang gentar:

sebuah rasa yang tahu bahwa apa pun yang menanti, itulah tempat terbaik yang dipilihkan untukku.

Aku tidak tahu akan ditempatkan di mana.

Apakah di kota yang lebih besar?

Di daerah terpencil?

Apakah akan dekat dengan keluarga, atau justru lebih jauh lagi?

Apakah suasananya akan seramah di sini?

Apakah aku akan menemukan orang-orang yang bisa jadi teman berbagi, atau akan lebih banyak belajar diam dan bertahan?

Tapi aku belajar satu hal penting dalam profesi ini:

kita tidak pernah bisa memilih tempat pengabdian,

tapi kita bisa memilih cara kita mengabdi.

Dan di manapun aku ditugaskan nanti, aku ingin tetap hadir sebaik yang aku bisa, berupaya menjaga integritas, ketulusan, dan semangat untuk terus belajar.

Jadi malam ini, jika benar pengumuman itu akan tiba, aku ingin menyambutnya bukan dengan gelisah, tapi dengan bisikan pelan pada diri sendiri:

"Terima kasih untuk semua yang telah dilalui di sini. Dan selamat datang, apa pun yang akan dimulai nanti. Bismillaah, laa haula wa laa quwwata illaa billaah"

Menghadapi Insiden di Jalan

Hari ini aku bersyukur karena Allah masih melindungi aku di jalan. Benturan yang terjadi tidak menimbulkan luka, tidak mengakibatkan kerusak...