Thursday, 27 February 2025

My Eldest Brother: A Gift I Will Always Be Thankful For

I am grateful to know that my eldest brother is celebrating his birthday today. Today, he turns 43.

Although people may not see him as a "successful person," he has been incredibly kind and helpful to me. We have not lived with our parents since I was eight. I still remember how he adjusted his college schedule so he could drop me off and pick me up from school.

I also remember how he supported my education, constantly motivating me not to give up. He picked up my report card and accompanied me to get my high school exam results—and that was my first failure. At that time, he said:


"It’s okay to fail this time. Haven't you always succeeded before? Maybe this is how Allah is showing you what it feels like to not get what you want. It's okay to feel sad, but we have to rise again. You are still great—it’s just not the right place for you."


He taught me how to view failure. That was my first life lesson as I transitioned into adolescence and adulthood.

Among the four of us, he has always been the one ready to take care of our parents. He diligently studied religion and became a devoted Muslim. He was the one who introduced me to Islamic magazines and books.

He always made sure I got to work safely, no matter where I worked for the first time. He took me to Batang, Lampung, and many other places. Now, he is always ready to take care of my children. Whenever they get sick, he is the one who takes them to the hospital.

When I was pregnant and gave birth, he stayed with me and was even willing to massage my tired feet and back.

O Allah, protect my brother, bless his age, and guide him in obedience and goodness.

Even if the world looks down on him, my brother is one of the most important people in my life. Thank You, Allah, for choosing me to be his sibling.

_________________

"Boalemo, February 28, 2025 – 

I write this as an expression of gratitude for his presence in my life."


Not All Heroes Wear Capes—Some Just Care

Monday, 10 February 2025

BERSYUKUR ITU APA (?)

Menurut saya bersyukur itu bukan dengan melihat kondisi orang lain yang lebih buruk. Kalau demikian, orang yang dalam kondisi buruk harus bersyukur dengan cara apa dong (?)


Setelah saya melewati, mengamati, dan merenungi beberapa hal yang saya temui dalam hidup saya (sok tua banget wkwk), izinkan saya berbagi pandangan bahwa bersyukur itu bisa kita lakukan dalam kondisi apapun, karena bersyukur itu adalah:


- Ketika diberikan suatu kebaikan kita merasa ternyata di antara banyaknya dosa yang kita perbuat, kita masih menerima kebaikan ini, jadi seharusnya ada rasa malu dalam diri kalau kita hendak melakukan sesuatu yg tidak Allah ridhoi, ada rasa malu di tengah berlimpahnya kebaikan dalam hidup, ibadah kita tidak ada progressnya, jadi seharusnya ibadah itu wujud syukur kita karena menyadari betapa besarnya kasih sayang Allah untuk kita, akhirnya kita yang ga baik-baik amat ini pengen terus berusaha jadi orang baik karena sadar kita ini selalu diberi kebaikan oleh Yang Maha Baik


- Ketika dalam situasi yang (menurut kita) tidak baik pun kita juga bisa bersyukur, yaitu hadirkan perasaan bahwa Allah yang Maha Adil dan Maha Bijaksana aja mengizinkan terjadinya kondisi tsb dalam hidup kita, berarti Allah percaya kita mampu, ibaratnya sudut pandang kita tuh cuma sebatas mata memandang, tapi sudut pandang Allah itu seluas jagat raya, jadi wajar kalau kadang kita merasa berat di awal karena kita ga tahu takdir ini akan membawa kita ke mana, tapi kalau yang Maha Mengetahui aja tahu kita bakalan mampu, masa kita ga percaya sih sama diri kita sendiri (?), ketika ada perasaan itu, jadi membuat kita merasa punya support system terbesar di dunia, dalam hati jadinya gini, "Alhamdulillaah ya ternyata aku masih punya Allah" atau rasanya gini "it's okay, kan ada Allah" sehingga akan mendorong kita jadi sabar dan berusaha, karena punya keyakinan kuat bisa melaluinya.


Kesimpulan:

Bersyukurlah dalam kondisi baik dan buruk dalam hidup kita, karena bersyukur itu sebenarnya bisa dilakukan dalam setiap keadaan tanpa harus menunggu ada yang lebih menderita dari kita.


Selamat belajar mensyukuri setiap hal dalam hidupmu.

_______________________________________

Ditulis suatu pagi ketika tiba-tiba posting ini di Facebook 😅

Boalemo, 11 Februari 2025

Wednesday, 4 September 2024

Belajar Sepanjang Hayat

Dulu aku merasa belajar itu beban. Aku memang suka sesuatu yg baru tapi yaudah sebatas tahu aja. Pikirku yang penting mah jadi orang baik aja, pinter nggak itu kan relatif 😂 (pasrah amat yak)

Sampai suatu hari aku tahu bahwa otak yang ga terus diasah untuk berpikir akan mudah terkena demensia. Sejak saat itu aku ingin terus belajar sesuatu dengan sepenuh hati. Semua hal harus aku pelajari sampai aku mengerti. Dari satu hal ke hal lain.

Jujur aku takut banget suatu saat nanti ketika usiaku bertambah dan aku menua, ingatanku juga perlahan hilang. Aku ga bisa bayangin aku kehilangan ingatan tentang perasaan mencintai dan dicintai. Aku takut ga ingat sama anak-anakku, suamiku, orang tuaku, keluargaku, sahabatku, juga semua orang yang pernah baik sama aku. Aku takut aku ga ingat semua hal yang aku pelajari sehingga aku ga bisa membantu sekitarku lagi, aku takut ga bisa memberikan manfaat lebih pada sekitarku, aku takut ga bisa membagikan ilmuku.

Ya Allah jagalah aku, keluargaku, sahabat-sahabatku, dan ingatanku.


Selamat belajar, Aku. Jangan berhenti.

Boalemo, 4 September 2024


Thursday, 8 February 2024

Hidup Adalah Seni Menjadi Stranger (Sebuah Perjalanan Mengenal Career Class)

Saat aku udah mulai stuck, biasanya aku akan "berkelana" menjadi stranger. Masuk ke lingkungan yang benar-benar baru, nggak ada temen yang mutualan sama sekali.

Misalnya waktu aku kuliah, aku coba ikut komunitas-komunitas, apalagi di Jogja kan banyak komunitas yah. Aku itu sebenernya sulit buat beradaptasi jadi aku men-challenge diriku sendiri dengan masuk ke lingkungan-lingkungan di mana orang nggak ada yang tahu aku, rasanya menyenangkan ketika kita bisa terhubung tanpa tahu "kamu siapa dan punya apa", tapi kita berteman karena punya kesamaan tujuan di komunitas itu.

Aku pernah coba jadi kakak pendamping dari adik asuh yang mana harus dateng ke tempat adik asuh, cari alamat padahal waktu itu aku ga pinter baca maps, mendampingi perkembangan akademiknya, harus ngobrol sama dia yang pendiam dan ngobrol sama orang tuanya juga padahal aku susah mulai obrolan apalagi harus ngemong dan keep contact waktu itu. Aku belajar gimana membangun komunikasi dengan berbagai macam orang.

Aku pernah coba jadi relawan fotografer di kelas inspirasi. Karena aku tertarik banget sama gerakan itu tapi aku belum bekerja, jadi aku belum bisa jadi pengajar, sumbangsih yang bisa aku berikan sesuai kemampuanku kala itu ya jadi relawan dokumentator. Akhirnya dengan pedenya aku daftar padahal pengalaman foto ya cuma foto-foto buat posting di Instagram atau koleksi pribadi. Tapi ternyata keterima juga dan udah tiga kali ikut. Menyenangkan banget, aku bisa kenal dengan relawan pengajar yang hebat-hebat yang mau meluangkan waktu berbagi inspirasi tentang pekerjaannya.

Dan beberapa komunitas lain yang randomly aku datengin aja gitu.


Setelah aku pikir-pikir, hal demikianlah yang secara ga langsung membentukku berani mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidupku. Karena aku merasa selama ini aku banyak mencoba hal baru dan toh semuanya baik-baik aja kok, jadi kenapa harus takut mengambil keputusan. Bismillaah aja.


Ternyata salah satu hal yang harus disyukuri dan dimanfaatkan saat masa muda adalah banyaknya waktu dan kesempatan buat mengeksplor diri.


Nah, berhubung sekarang udah ga (begitu) muda, berkeluarga, dan udah kerja, jadi waktu luang itu ga sebanyak dulu lagi. Apalagi kerjanya bukan di kota besar atau kota yang ramai jadi komunitas di daerah ga begitu banyak. Setiap hari diikuti rutinitas 24/7 yang sama, apalagi aku udah jarang keluar karena "ya.. mau ke mana juga". Kadang sampai di rumah juga masih kepikiran masalah yang sedang ditangani, ditambah masalah sendiri yang kadang membuat overthinking. Selama ditempatkan di sini, ada saat di mana aku melewati masa-masa sulit, seperti perasaan sedih karena jauh dari keluarga, tapi bagaimanapun itulah konsekuensi dari pekerjaan yang dijalani, konsekuensi dari pilihan hidup dalam rumah tangga kami. Suamiku kemudian menyarankan agar aku mengisi waktu dengan kegiatan yang sekiranya aku sukai untuk menghibur diriku saat sendiri. Tahun lalu itulah puncak dimana aku merasa stuck, aku mencari tahu hal apa yang aku sukai, lalu aku teringat masa-masa menjadi "stranger". Kembali muncul kenginan untuk mengeksplor sesuatu yang baru.


Setelah lama mengamati dan mengagumi semangat orang-orang di dalamnya, akhirnya aku memutuskan buat daftar Career Class. Rasanya kayak "aku juga mau punya semangat kayak orang-orang di situ". Niat awal tuh bener-bener untuk belajar, tambah wawasan dan sudut pandang, pengen tahu gimana kalau orang dari berbagai latar belakang jadi satu karena punya keinginan yang sama: self development. Eh ternyata alhamdulillaah dapetnya lebih-lebih dari yang aku kira, padahal baru jalan efektif satu bulan sejak Januari.


Career Class itu seperti komunitas belajar. Sistem belajarnya itu kelas online via zoom tiap weekend selama setahun penuh. Materinya beragam banget dari pengenalan diri yang lebih mendalam, pengembangan karir, pemahaman tentang kesehatan, keuangan, keluarga, dll. Selain materi utama tiap weekend ada juga kelas-kelas bonus lain dan mini club, misal ada mini club bahasa, ada belajar bahasa isyarat, ada tahsin juga, dan ada forum diskusi lainnya. Di sesi deep talk pernah disampaikan kalo inti dari semua kelas Career Class itu ada dua: belajar olah pikir dan belajar olah rasa. Seru banget kan!

Di Career Class, peserta diberi challenge untuk bertemu virtual sama orang yang ga pernah dikenal dan ga pernah terkoneksi dalam hal apapun. Ngobrol 1 on 1 sama temen yang baru dikenal tapi ternyata asik juga yah. Sebenernya seru kalau bisa 1 on 1 lebih banyak lagi. Tapi aku belum bisa lagi karena biasanya waktunya ga cocok soalnya kalo malem aku pasti belajar sama anak-anakku. Tapi semoga tetap ada kesempatan lain buat mengenal lebih banyak teman.

Di Career Class selama bulan Januari ini aku udah belajar tentang gimana berpikir ke akhir dulu alias Start With End, "kita itu sebenernya pengen jadi apa" habis itu baru menyusun step by step, langkah apa yang sekiranya harus kita lakuin untuk menuju ke sana. Semua diuraikan pakai worksheet yang namanya Individual Development Plan (IDP). Ini mind blowing banget sih. Walaupun awalnya IDP ku terlalu banyak dan rinci tapi sejak saat aku bikin itu aku jadi punya bayangan, aku kerja itu harus semaksimal apa. Ternyata banyak hal dalam pekerjaan ini yang bisa aku dalami lagi. Setelah 1 on 1 dengan buddy, aku jadi dapat gambaran yang lebih mendalam apa tujuan yang ingin aku capai selama ikut Career Class. Aku diajak memilah satu per satu, akhirnya aku jadi bisa memetakan apa keinginanku dalam proses belajar ini.

(btw di Career Class masing-masing peserta punya buddy untuk diskusi jadi kayak ngejaga supaya peserta tuh jangan sampai selesai ikut career class bakal jadi orang yang sama, tanpa ada perubahan) 

Selain itu aku jadi punya kemauan untuk olahraga. Aku menyebutnya "keajaiban dunia Bangkit" soalnya aku tahu aku itu semager apa 😭🙏 Aku udah beberapa kali jalan 5 km setiap libur. Suamiku pun terkejoed terheran-heran 🤭

Hal lain yang aku rasakan adalah aku ngerasa kalau ada waktu luang aku harus belajar, kayak ulang materi atau belajar sesuai IDP aku. Aku ga mau menyia-nyiakan waktu.


Ini baru sebulan aja aku merasa ada banyak hal berubah dari diriku. Huhuuu ga sabar setahun penuh akan menjadi seperti apa aku. Ga sabar melihat perubahan diriku. Sesuai tujuan belajarku: Sense of progressing. Selanjutnya di blog ini nanti aku ingin cerita perjalananku belajar bersama Career Class. Semoga bisa melewati semuanya.


Aku jadi ingat temanku pernah bilang:

"Dalam kenyamanan tidak ada kemajuan, jadi kalau aku ingin melangkah maju, sudah pasti akan tidak nyaman."


Dan aku berkesimpulan:

Hidup itu seni menjadi stranger. Semakin kita mau beranjak ke sesuatu yang belum pernah kita alami sebelumnya, di situlah kita bertumbuh.


Terima kasih Mas Gun, Kak Alia dan segenap tim yang udah membangun Career Class sebagai rumah bertumbuh bagi banyak orang. Terima kasih juga teman-teman tumbuhku, sesama Career Class 2024. Di sini, ketidaknyamanan dalam suatu perubahan pun bisa terasa begitu menyenangkan. Semangat bertumbuh 🌱


Boalemo, 9 Februari 2024

Monday, 11 September 2023

Mengeluh Itu Normal Nggak Sih?

Kamu pernah mengeluh nggak? Kayaknya bohong yah kalau nggak pernah mengeluh. Sampai-sampai sekarang banyak akun yang ditujukan supaya kita nggak segan untuk sambat/mengeluh. Katanya hari-hari kita udah melelahkan jadi kalau kamu capek banget terima aja perasaannya, dan nggak apa-apa kok kalau mengeluh karena kita manusia.

Tahu nggak sih, ternyata bener, mengeluh itu hal yang manusiawi. Alias emang yg namanya manusia tuh kayak gitu. Allah sudah menggambarkan di Al Qur'an. Manusia itu kalau dikasih kesusahan tuh mengeluh, eh tapi kalau dikasih kenikmatan kok kikir dan perhitungan sm Allah.

Tapi meskipun itu manusiawi jangan sampai kita menjadi orang yang terlalu sering mengeluh. Jangan jadi pribadi yang mengeluhnya kebangetan, kayak rewel, kayak mengeluh yang muak gitu lho dengan apa yang menimpanya. Takutnya keluhan yang demikian akan membawa kita pada rasa putus asa dan seolah kecewa kepada apa yang sudah ditetapkan untuk kita.

Sampai-sampai aku pernah denger ungkapan "hidup ini adil, karena setiap kita pasti pernah merasa bahwa hidup ini nggak adil" 😭 Kadang pas lagi down-down nya tuh suka nggak sadar kan keluar kata-kata "kok hidup nggak adil banget yah buat aku". Astaghfirullah padahal hidup kita diatur sama Yang Maha Adil..

Nahh giliran Allah ngasih kita kelapangan nih, kita malah sering lupa. Banyak kan orang yang saat nggak punya apa yang dimiliki mengeluh, marah sama Allah tapi saat udah diberi ia tidak mensyukurinya karena menginginkan yang lebih lagi, nikmat yang bertambah selalu terasa kurang, sehingga membuat orang menjadi kikir atau pelit..

Karena itu Allah memberi kita petunjuk dalam Al-Qur'an supaya kita terhindar dari sifat-sifat yang seperti itu yaitu dengan senantiasa melakukan hal-hal sebagai berikut:

  • Sholat dan Istiqomah menegakkan sholatnya, maksudnya sholat yang bukan sekedar sholat gitu lho, tapi terus berusaha memperbaiki sholatnya, tuma'ninah, dan tidak pernah meninggalkannya, percaya nggak percaya dan harus percaya bahwa sholat itu melatih kita jadi orang yang sabar dan tenang. Nah kalau kita udah biasa nggak tergesa-gesa dan tenang maka saat menghadapi keadaan apapun insya Allah sifat itu akan terbawa;
  • Menyisihkan sebagian hartanya untuk bersedekah, berarti sebaiknya harta yang disedekahkan itu sudah disisihkan atau disiapkan bagiannya sejak awal, bukan dari harta sisa-sisa kita, kalau aku nangkepnya karena tujuannya menghindari sifat kikir jadi saat sejak awal kita punya harta yang lebih di saat itulah kita setidaknya punya alokasi berapa dari harta itu yang akan kita sedekahkan, takutnya karena sifat manusiawi kita itu kikir begitu dapat harta yang banyak tuh kita langsung punya wishlist a, b, c, d, sampai z dan lupa untuk berbagi, maka "sisihkanlah" hartamu untuk bersedekah, bukan "sisanyasajalah" untuk bersedekah;
  • Beriman adanya hari pembalasan, dengan percaya adanya hari pembalasan maka kita akan berhati-hati dalam melangkah karena kita percaya semua yang ada pada kita akan "diaudit", apa aja yang kita lakukan saat dikasih usia, waktu, kesempatan, kesehatan, keluarga, ilmu, kemudahan berbuat kebaikan, kelimpahan harta, dll;
  • Menjaga kemaluannya, di sini yang dimaksud menjaga kemaluan itu bukan sekedar menjauhi zina tapi juga termasuk ketika kita menjaga diri dari perbuatan melampiaskan hawa nafsu pada hal-hal yang tidak diperbolehkan oleh Allah, maka segala keinginan di luar apa yang sudah digariskan Allah adalah keinginan yang melampaui batas;
  • Memelihara amanat dan janji serta berpegang teguh pada kesaksiannya, sifat ini kalau digambarkan dengan bahasa yang sering kita dengar sekarang yaitu integritas, misalnya dalam pekerjaan kalau kita udah janji untuk mengerjakan semua tanggung jawab ya kerjakan, kalau kita berikrar untuk nggak akan mengambil yang bukan haknya ya jangan cari-cari cara buat dapet yang bukan hak kita, atau misalnya kalau kita muslim ya berarti harus sholat, puasa, zakat, naik haji untuk yang mampu, kalau kita pengen badan yang sehat ya harus jaga apa yang kita makan, terus jaga olahraganya dan tidurnya, dll. Jadi sebenernya capek itupun konsekuensi dari janji, amanat, dan ikrar yang sudah kita niatkan, jadi yaudah jalani aja;
Nah apabila kita bisa berupaya menjaga itu semua insya Allah kita akan termasuk dalam golongan yang dimuliakan dalam surga.

 Kebayang nggak sih, masuk surga aja rasanya itu kayak hadiah yang amat mulia, eh ini masih dimuliakan lagi.

Ternyata untuk belajar jadi pribadi yang tidak gampang mengeluh, tidak sering rewel, bisa punya rasa sabar dan syukur serta tidak kikir dan tidak pelit itu berat juga yah.. Tuh kan baru aja kita belajar gimana cara nggak mudah mengeluh eh malah udah mengeluh lagi 😁😭😂

Yaudah kalau gitu kita cari teman yang sevisi, yuk! Supaya bisa saling menyemangati dan mengingatkan untuk berbuat kebaikan di jalan Allah. Semangat ya, aku, kamu, kita.


- Refleksi dari QS. Al Ma'arij: 19-35 -



Thursday, 7 September 2023

You Only Live Once (?)

Kita sering terlena dengan dunia karena berpikir bahwa kita hidup cuma sekali, "you only live once" katanya. Padahal sebenarnya hidup itu nggak cuma sekali lho. Justru matilah yang cuma sekali.

Tahu nggak, berdasarkan info yg aku kutip dari katadata, penduduk Indonesia memiliki angka harapan hidup yang tergolong rendah dibanding negara-negara tetangga. Hal ini terlihat dari data World Population Prospects: The 2022 Revision yang dirilis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Berdasarkan data PBB, pada 1960 median angka harapan hidup saat lahir di Indonesia adalah 46,45 tahun. Kemudian angkanya terus membaik, hingga pada 2022 mediannya mencapai 68,25 tahun.

Tuh kan ga sampai 70 tahun. Coba kita bayangkan berapa banyak manusia yang sudah meninggal dunia puluhan atau ratusan tahun yang lalu padahal usia paling ga sampai 100 tahun. Jadi lebih lama mana waktunya, lebih lama kita menjalani hidup atau kita menjalani kematian?

Suatu saat nanti pada waktunya Allah akan membangkitkan kita semua setelah kita semua sudah meninggal. Kita dihidupkan kembali untuk mempertanggungjawabkan semuanya. Sampai akhirnya kita akan menjalani hidup yang kekal yaitu di surga atau di neraka. Dan di sinilah, dunia, tempat kita mengumpulkan bekal sebelum ke sana.

Cita-cita, keinginan, harapan, dan impian kita untuk memiliki banyak hal dunia ini begitu panjang. Tapi waktu kita belum tentu panjang. Jangan lelah untuk terus memohon hidayah-Nya di sepanjang hidup kita.

Kalau orang yang mengejar dunia aja bisa begitu semangat karena menganggap hidup cuma sekali dan sebentar, seharusnya orang yang mengejar akhirat jauh lebih semangat lagi karena tahu mati cuma sekali dan tidak akan sebentar. You (not) only live once! Tidak ada pilihan untuk "coba lagi" nanti. Kalau udah meninggal kita udah nggak bisa memperbaiki semuanya.

Ya Allah semoga hidup (di dunia) yang cuma sekali ini akan berakhir dengan indah sekali.
Pasti iri kan kalau lihat ada orang yang baru sholat, baru ngaji, baru berdakwah, baru melakukan kebaikan tiba-tiba meninggal dunia? Bayangkan betapa bahagianya nanti kalau akhir hidup kita adalah ucapan "Laa ilaaha illallah" Kemudian kita akan disambut dengan lembut...


{ یَـٰۤأَیَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَىِٕنَّةُ }
{ ٱرۡجِعِیۤ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِیَةࣰ مَّرۡضِیَّةࣰ }
{ فَٱدۡخُلِی فِی عِبَـٰدِی }
{ وَٱدۡخُلِی جَنَّتِی }
[Surat Al-Fajr: 27-30]


“wahai jiwa yang tenang..kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridho dan diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”.


Bayangkan betapa indahnya :""""'')


___________________________________________

Dunia hanyalah kesenangan yang sementara
QS.13:26, QS.3:197, QS.39:8
Surga adalah kesenangan yang abadi bagi orang beriman
QS.13:29, QS.11:23, QS.10:9


Wednesday, 19 July 2023

Mengenang Ibu dan Mensyukuri Hadirmu

 

Ketika menjadi seorang istri dan ibu, aku khawatir tidak bisa menjadi seorang istri dan ibu yang serba bisa. Setidaknya "serba bisa" itulah yang kulihat ada pada sosok mama (ibuku) dan cerita suamiku tentang Ibu (mertuaku).

Tapi setiap kali kekhawatiran datang, setiap kali aku dihampiri rasa tidak sempurna dalam menjalani peranku, aku melihat kehadiran seorang pria yang selalu mendampingi dan membimbingku dengan sabar dalam setiap langkahku berproses menjadi seorang istri dan ibu.

Terima kasih Ibu, telah mendidik dan membesarkan anak laki-laki Ibu dengan baik dan sabar hingga aku bisa merasakan kasih sayang Ibu melalui sikap hangatnya dalam keluarga kecilku.

Ibu, anak laki-lakimu itu hari ini bertambah usia.. Insya Allah ia akan terus menjadi suami yg baik dan ayah yang baik untuk cucu-cucu Ibu.. Semoga cucu-cucu Ibu pun bisa meneladani kesabaran dan kelegawaan Ibu dalam menjalani kehidupan seperti makna dalam nama mereka.. Dan semoga kami semua bisa menjadi anak yang sholih, sehingga menjadi amal jariyah untuk Ibu..

Ibu, meski kita belum pernah bertemu, aku berharap semoga Allah memudahkan jalan kita  menuju surga, semoga di tempat paling indah itulah kelak menjadi titik temu pertamaku dengan Ibu..

Terima kasih Allah
Terima kasih Ibu
Terima kasih suamiku


Boalemo 19 Juli 2023

____________________________________________

Plot twist-nya adalah ternyata jauh sebelum hari ini. Jauh sebelum aku mensyukuri hari ini. Aku sudah mengagumi Ibu dan suamiku dan menuliskannya di sini dan di halaman ini. 

Masya Allah :")

Menghadapi Insiden di Jalan

Hari ini aku bersyukur karena Allah masih melindungi aku di jalan. Benturan yang terjadi tidak menimbulkan luka, tidak mengakibatkan kerusak...