Thursday, 17 August 2017

72 Tahun dalam 1-7an

Kalo perbedaan itu bikin perpecahan, Pahlawan kita ga mungkin bisa membawa kita dalam kemerdekaan. Jadi jangan jadikan perbedaan sebagai alasan untuk ga bisa bersatu dalam kebersamaan.

Berseberangan dalam hal pemikiran itu hal biasa. Jangankan pemikiran, dari luar pun kita sudah lahir dari latar belakang yang berbeda beda, dari suku, agama, adat, kebiasaan, dan lain lain. Bersatu itu ga harus dipaksa untuk bercampur jadi satu. Tapi bersatu itu berjalan beriringan untuk sebuah tujuan yang satu.

Jadi siapa kita, dari mana kita, sebagai apapun kedudukan kita sekarang, berikanlah kontribusi terbaik untuk bangsa. Jangan hanya menuntut dan merutuki pemerintahan tanpa solusi atau kontribusi yang nyata.

Alhamdulillah ya jaman dulu banget belum ada gadget, jadi saat lelah dikuasai penjajah, Para Pejuang ga update status dengan sumpah serapah untuk para penjajah. Beliau semua menggerakkan raga dan jiwa nya untuk bersatu karena punya tujuan yang satu, yaitu merdeka. Semoga Allah menjadikan akhir hidup Para Pahlawan baik yang kita kenal namanya maupun yang tidak, sebagai akhir yang husnul khotimah.

Semoga nikmat kemerdekaan ga membuat kita terlena hingga hanya menjadi sebuah euforia perayaan tanpa makna. Daripada mencaci lebih baik kita saling mendoakan bangsa kita, dan Para Pemimpin kita semoga berada di jalan yang lurus dan diridhoi Allah.

Selamat mempertahankan kemerdekaan dengan karyamu. Mulai dari diri sendiri, dari hal kecil, dan dari lingkungan terkecilmu.

Berbeda itu biasa, asal masih ada Merah Putih di antara kita.

Dirgahayu Republik Indonesia ke 72
17 Agustus 2017


Tuesday, 11 July 2017

Eksistensi

Di saat kita mengejar eksistensi di dunia maya,
di saat itulah kita melewatkan momen momen terbaik di dunia nyata.

Kita hadir sekedar merekamnya dalam genggaman tangan,
tapi tidak merekamnya dalam ingatan.

Waktu terus berjalan,
dan tanpa sadar kita kehilangan
akan sesuatu yang disebut kenangan.

Tak ada yang bisa dikenang,
selain susah payahnya melindungi gambar dari "polusi" tangan-tangan,
atau bagaimana cara mendapatkan
gambar terbaik untuk dibagi pada beranda teman-teman.

Letakkan sejenak gadgetmu,
lihat sekitarmu,
dan nikmatilah momenmu.

Yogyakarta,
6 Juli 2017




Percayalah mata, hati, dan telinga adalah perekam  yang terbaik
 -Prawitamutia-

Monday, 19 June 2017

Kenapa ya

Kenapa ya perihal perasaan cinta begitu mengaduk dan menguasai sebagian besar kepala kita. Entah perihal jatuh cinta, cinta dalam hati, bertepuk sebelah tangan, diputusin, diselingkuhin, dll. Tapi ya namanya perasaan, kita gabisa sih memaksakan orang lain untuk tidak memikirkan atau membesarkannya seolah hidup ini hampa tanpa cinta darinya, padahal masih banyak lho orang yang sayang kita.

Maksudku, ayo dong, semakin hari kita semakin dewasa lho dan waktu kita makin berkurang. Ada begitu banyak hal yang juga harus kita perhatikan daripada sekedar meratapi status jomblo. Jodoh kita udah ada dan pasti kok, bahkan jauh sebelum kita lahir di dunia.

Kenapa kita ga memenuhi pikiran kita dengan segala hal di sekitar kita yang harus diperhatikan dan butuh aksi nyata dari kita.

Gimana nasib orang di sekitar kita yang kurang mendapat akses pendidikan, gimana orang di sekitar kita tidur berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, kita bisa bantu apa ya

sepuluh hari terakhir ramadhan apa yang sudah kita lakukan ya, banyak banget buka bersama fancy yang harus didatengin nih,

siapa aja sih nabi rasul kita, siapa aja sih sahabat nabi yang dijamin masuk surga, kayanya kita lebih hafal aktor korea, artis hollywood, atau personil boyband deh daripada nabi dan sahabatnya, emang amalannya apa ya kok bisa dijamin masuk surga,

kuliah, skripsi kita bagaimana ya kabarnya, padahal teman teman yang lain bisa lho kenapa kita enggak ya, jangan jangan ada yang salah nih sama diri kita

teman kita yang lama tidak pernah kita sapa, ada di mana ya sekarang, bapak ibu sekarang lagi apa ya, kakak adek sekarang lagi suka apa ya, kapan ya terakhir ngobrol

waktu lihat tv kok ada operasi tangkap tangan KPK, siapa sih yang ditangkap, apa ya kasusnya,

kok sekarang dimana mana teriak intoleran, emang kenapa sih kok tiba tiba semua panik, akar masalahnya apa ya, jangan jangan kita cuma ikut ikut cinta Pancasila teriak toleransi, tapi melihat keyakinan orang lain untuk berpakaian aja kita memandang sebelah mata,

kenapa ya kalo buka hp ngelihat berita artis kita ketawa sendiri bacain komennya, kita heran sama orang yang komen seenaknya,nyinyir sekenanya, haha kenapa sih orang orang ini ngurusin hidup orang lain, tapi ga sadar kita menikmati dan terus cari berita yang serupa, kenapa ya kita

terus pas buka youtube ada siaran ulang, ada anak 8 tahun yang hafal 30 juz Alquran, hafalan kita sampai mana ya, kapan terakhir kita baca alquran,..

ada video orang ga punya tangan kaki,atau ga bisa melihat, sampai susah payah untuk datang ke masjid, pas azan kita ngapain ya,

kenapa hati kita ga tergerak ya…

Banyak hal yang harus lebih kita perhatikan, tapi kita sibuk dengan urusan kita sendiri. Kita sibuk menangisi kisah percintaan kita yang bahkan udah dijamin sama Allah endingnya. Sedangkan “ending” hidup kita, karya kita, manfaat apa yang bisa kita tinggalkan, itu ga dijamin sama Allah. Kita yang harus bergerak dan berubah.

Sekali kali mungkin kita perlu membuka mata hati telinga kita dan bertanya dalam hati, kenapa ya, aku harus melakukan apa ya untuk ikut memperbaiki semuanya….

Tidak bermaksud menggurui, hanya mengajak untuk merenungi

Yogyakarta,
20 Juni 2017

Monday, 5 June 2017

Titik Buta

tidak semua broadcast membosankan untuk dibaca. seperti salah satu yang entah siapa dulu pertama kali menulisnya, menurut saya ini adalah penggambaran sederhana namun menarik tentang "nasihat". terima kasih untuk siapapun pertama kali yang memantik untuk menuliskannya.barusan saya tidak sengaja menemukannya di notes hp saya dan telah saya tambahkan beberapa bagian. semoga yang singkat ini bisa bermanfaat.

semua atlet memiliki pelatih. padahal jika antara pelatih dan atletnya disuruh bertanding, belum tentu pelatihnya akan menang.

mungkin kita bertanya-tanya, mengapa seorang atlet butuh pelatih kalau bisa saja justru ia yang akan menang melawan pelatihnya?

ketahuilah bahwa seorang atlet butuh pelatih bukan karena pelatihnya lebih hebat, tapi karena ia membutuhkan seseorang untuk mengingatkan, mendorong, memotivasi, mengkoreksi, dan melihat hal-hal yang “tidak dapat dia lihat sendiri".

hal yang tidak dapat kita lihat dengan mata sendiri itu yg disebut “blind spot” atau “titik buta”. kita hanya bisa melihat “blind spot” dengan bantuan orang lain.

dalam hidup, kita butuh orang-orang untuk mengawal kehidupan kita, sekaligus untuk mengingatkan kita seandainya prioritas hidup kita mulai bergeser.

kita butuh orang lain yang
- menasihati,
- mengingatkan, bahkan
- menegur jika kita mulai melakukan sesuatu hal yg keliru, yg mungkin tidak kita sadari.

kita butuh kerendahan hati untuk
- menerima kritikan,
- menerima nasihat, dan
- menerima teguran
karena hal itulah yang justru menyelamatkan kita.

kita bukan manusia sempurna.
jadi, biarkan orang lain menjadi “mata” di area blind spot kita, sehingga kita bisa melihat apa yang tidak bisa kita lihat dgn pandangan kita sendiri.

maka bersyukurlah jika masih ada yang mau repot repot menegur atau menasihati kita, itu berarti mereka masih peduli dan ingin kita berubah menjadi lebih baik.

begitupun, tak perlu resah jika ada orang yang mengatakan dalam diri kita ada sesuatu yang salah. berbesar hatilah. bukankah hal itu bisa jadi bahan kita untuk bermuhasabah?

dan yang tidak boleh dilupakan, sudah pasti seorang pelatih akan mengingatkan atletnya dengan tujuan kebaikan, bukan dengan tujuan untuk menjatuhkan. maka di kala kita sedang berperan menjadi "pelatih" bagi orang lain maka sampaikanlah dengan cara yang baik.

mari saling menasihati (dengan baik) di dalam kebaikan ☺

Orang-orang yang bertakwa tidak ada tanggung jawab sedikit pun atas (dosa-dosa) mereka; tetapi (berkewajiban) mengingatkan agar mereka (juga) bertakwa.
(QS Al-An'am: 69)

Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS An-Nahl: 125)

Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. (al-Balad: 17)

Berilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri, dan jauhilah memberikan nasihat di tengah-tengah keramaian. karena nasihat di tengah-tengah manusia itu termasuk satu jenis pelecehan yang aku tidak suka mendengarkannya. jika engkau menyelisihi dan menolak saranku
maka janganlah engkau marah jika kata-katamu tidak aku turuti
-Imam Syafii-

Saturday, 27 May 2017

Ramadhan



شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah.

QS. Al Baqarah 185

Alhamdulillaah Allah memberi kita kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadhan tahun ini. Mari kita maksimalkan kesempatan ini sebagai momen untuk mebuat perubahan hidup ke arah yang lebih baik. Mungkin adalah Ramadhan terakhir kita. Maka kita harus membuat ini menjadi Ramadhan terbaik selama hidup kita.  Karena kita tidak pernah tahu apakah kita masih akan mendapatkan kesempatan bertemu kembali dengan bulan Ramadhan yang selanjutnya :") Bismillaah, happy fasting!



Saturday, 20 May 2017

20 Mei ke 25

Terima kasih bapak dan mama sudah merawat, mendidik, dan menyayangi aku dengan sepenuh hati. Semoga Allah selalu menyayangi dan memberkahi bapak dan mama di dunia hingga di akhirat nanti. Terima kasih bapak dan mama sudah memberi aku nama Bangkit. Sejatinya, bapak dan mama lah alasanku untuk selalu bangkit.

Sunday, 14 May 2017

Seringnya Kita

Seringnya kita tertawa lebar saat dilimpahi nikmat,mengekspresikan kebahagiaan kita seolah dunia harus tau segalanya. tak peduli apakah saudara disamping kita sedang dalam kesulitan yang pelik, atau sedang punya beban yang melilit. Yang penting kita sedang bahagia. Itu saja.

Seringnya saat kita lelah, kita berharap ada bahu yang setia menawarkan diri menjadi sandaran, ada tangan yang rela memberikan pijatan menghilangkan pegal dikaki dan kebas ditangan, atau seminimalnya ada tangan yang menepuk pundak kita meyakinkan bahwa kita masih kuat, atau sekedar tatapan teduh yang mengisyaratkan bahwa masih ada kawan yang senantiasa bersedia membersamai. Itu sering jadi harapan kita terhadap orang lain, tapi sebaliknya jika orang lain yang mungkin kelelahan; jangankan untuk meringankan lelahnya, meliriknya dan menanyai kabarnya pun, seringkali kita tak sempat. Kita masing-masing sibuk dalam dunia kita sendiri.

Seringnya kita saat memberikan amanah kepada orang lain, berharap orang itu mampu bekerja dengan professional dan baik. Kita hanya mengharapkan mereka bekerja dengan baik. Namun jarang sekali kita berusaha mengetahui beban-beban pribadinya semisal kesehatan, finansial dan akademik, apakah semua itu juga berjalan dengan baik ataukah tidak?. Seringnya kita lupa, bahwa terkadang seseorang berupaya memenuhi komponen profesionalitas yang kita harapkan, sampai akhirnya ia lalai untuk profesional dalam urusannya sendiri, ia lalai dalam mengurus dirinya sendiri. Dan parahnya kita selalu terlambat menyadari, bahwa kita sudah mengabaikan banyak hal mengenai saudara kita selama ini.

Mungkin saja kesalahan ada pada diri kita sendiri. Kita tidak bisa memaksakan orang lain memenuhi
Mengandaikan sesuatu tak memperbaiki apapun. Tetapi mengevaluasi diri sendiri dan keadaan lah yang memperbaikinya. Semaksimal apapun kita berusaha, . Karena kita harus belajar melihat sesuatu tidak harus dari sudut pandang kita sendiri. Kita tidak bisa memaksa seseorang berkomitmen. Tetapi berpegag teguh pada komitmen adalah pilihan.

Seringnya kita, saat susah sedih dan gundah, kita berharap dan berharap dan berharap ada orang lain yang bersedia meringankan, membersamai, menolong, atau bahkan mengambil alih beban-beban kita dengan suka rela. Padahal semua yang dilimpahkan pada kita sudah diatur kadarnya; berapa orang yang akan membersamai, berapa banyak yang harus ditanggung, berapa pelik yang harus dihadapi. Semua diatur sesuai kadar. Tak ada yang salah dan tak ada yang tertukar. Tapi kita masih saja berharap kepekaan untuk meringankan, dari manusia-manusia yang juga sedang berharap hal yang sama dari kita.

Padahal ada yang senantiasa berharap kita datang tersedu disepertiga malam mengadukan segalanya pada-Nya. Mengembalikan seluruh pengharapan hanya pada-Nya. Memohon dukungan dan kekuatan hanya pada-.

Don’t depend on yourself, Don’t depend on other people: Depend on Allah. Depend on Allah. Depend on Allah.

©Hanifah | 2015
Sebuah tulisan yang baik untuk direnungkan dari cakrawalabiru.tumblr.com
_________________________________________
Semoga diam kita bukan karena tidak mau bicara, sendiri kita bukan karena tidak ingin diganggu. Tapi diam dan sendiri kita menjadi saat di mana kita merenungi apakah semua yang ada di kepala kita sudah sejalan dengan apa yang ada di dalam hati. Bukalah mata untuk melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang dan bukalah hati agar dapat menerima segala sesuatu dengan lapang. Semoga dengan demikian kita belajar lebih peka terhadap banyak hal di luar diri. Karena dimanapun kita berdiri, kita ini tidak hidup sendiri. Baik-baiklah dalam membawa diri.

Klaten 14 Mei 2017