Sunday, 1 October 2017

Adil dalam Mengambil Keputusan

Kita bisa mendengarkan kata semua orang. tapi kita tidak bisa mengikuti semua kata orang

Adil itu tidak bisa terdefinisikan. yang dirasa adil bagi seseorang belum tentu adil untuk orang lain.

Bahkan, seorang hakim yang harus adil memutus perkara pun, putusannya tetap dirasa tidak adil bagi salah satu pihak. Tapi serumit apapun itu, seorang hakim harus berani mengambil sebuah keputusan. Hakim tidak bisa menuruti kemauan semua pihak, tugas hakim adalah mendengar kedua belah pihak, mencari jalan tengah, dan memutuskan.

Setiap hari, kita adalah hakim bagi diri kita sendiri.  Itulah mengapa, hendaknya sebelum kita melakukan atau menyampaikan sesuatu, kita harus belajar melihat dari berbagai sisi, mendengar dari berbagai pihak, dan menelaah apa sebab dan akibat atas apa yg akan kita lakukan.

Yang terpenting adalah bagaimana kita selalu berusaha melibatkan Allah dalam mengambil keputusan. Semoga dengan terus mendekatkan diri padaNya, setiap apapun keputusan yang nantinya kita ambil, ada Hakim Yang Paling Adil yang akan menggerakkan hati dan mengarahkan langkah kita menuju jalan yang terbaik.

Semoga dengan terus mendekatkan diri padaNya, setiap reaksi atas keputusan yang kita ambil, dapat kita sikapi dengan sabar dan lapang dada.

Selama niat kita baik, cara kita baik, itikad kita baik, inshaallah setiap keputusan kita akan menemukan jalannya yang terang. Jika hikmahnya belum didapat sekarang, mungkin dirasakan suatu saat yang akan datang.

1Minggu 1Cerita
Yogyakarta, 1 Oktober 2017

Sunday, 17 September 2017

Kemampuan Kita (tidak) Terbatas

Saya selalu mengagumi setiap orang yang saya temui. Saya yakin setiap orang punya sesuatu yang bisa saya jadikan contoh atau pembelajaran untuk diri saya sendiri. Salah satunya adalah, saya belajar banyak dari kegigihan teman saya saat harus terus vertahan dalam keadaan nya yang serba terbatas.


Teman saya berasal dari suatu daerah di Jawa. Awalnya ia tidak pernah bercita untuk kuliah, karena di desanya tidak ada orang yang kuliah. Dalam bayangannya, selepas SMA, ia akan menjadi TKI, melihat beberapa kesuksesan orang-orang di desanya yang mengadu nasib di negeri orang. Namun tak sengaja, ia mendaftarkan ujian masuk universitas, karena saat itu ia hanya ikut teman-temannya yang kala itu sedang antri panjang di ruang guru untuk mendaftar kuliah. Beberapa tahun lalu, mendaftar kuliah tidak seperti sekarang yang bisa online dan upload semudah menekan tombol enter. Jadi saat itu, antrian panjang adalah antrian pendaftaran dari sekolah untuk dikirimkan berkasnya ke universitas. Ketidaksengajaan masuk dalam antrian, membuat dia bingung harus mendaftar jurusan apa, sehingga ia hanya asal menyebut bahwa ia akan mendaftar sama dengan orang yang di depannya. Sesederhana itu.


Dan rencana Allah pun berjalan, tak disangka ia diterima di sebuah universitas negeri di Yogyakarta. Awalnya, ia tidak mendapat restu dari ayahnya karena orang tua nya tak ada biaya. Bekerja sebagai petani saat itu tak mampu memenuhi uang spp apalagi biaya tinggal dan hidupnya di Kota Yogya. Tapi ibunya lah justru yang meyakinkan dirinya sendiri yang mulai goyah karena penolakan ayahnya. Ibunyalah yang meyakinkan ayahnya bahwa dia pasti bisa. Akhirnya ayahnya setuju dengan catatan ayahnya hanya mampu memberinya uang spp 1 semester dan uang kos, serta biaya hidup selama 6bulan. Selebihnya ayahnya tidak bisa menjamin karena memang tabungannya telah habis digunakan untuk itu. Teman saya menyanggupi dan berjanji pasti akan bisa bertahan dan berjuang, ia berjanji akan menyelesaikan studinya.


Alhasil karena biaya hidupnya hanya mampu dicukupi orang tuanya dalam enam bulan, selama empat tahun kuliah selanjutnya, ia tidak punya tempat berteduh dari panas, berlindung dari hujan, dan berbaring untuk melepas lelah. Dihabiskannya hari-hari di tempat yang berbeda, kadang di kos temannya, kadang di sebuah masjid yang dijumpainya, kadang di sekretariat organisasinya, atau kadang di dalam mobil operasional di sekrenya, asasnya dimanapun ia berada ia (harus) bisa merasa nyaman. Dia hanya sedikit memiliki pakaian dan tidak pernah punya buku, supaya ia hanya membawa sedikit barang untuk di bawa kemana-mana. Maka dari itu, demi memenuhi kebutuhannya, di samping kuliah, dia juga bekerja. Saya tidak pernah menyangka di tengah kehidupan kampus yang megah ini, di tengah kehidupan sosial kita yang semakin konsumtif dan menomorsatukan sebuah pengakuan, saya bertemu dengan seseorang yang begitu sederhana dengan pemikirannya yang luar biasa.


Saat kita kuliah cukup fokus dengan hari ini tugas apa, besok ujian apa, ia juga harus berpikir hari ini makan apa dan nanti harus tidur di mana. Saya tidak bisa membayangkan kehidupan bagaimana yang ia hadapi selama empat tahun menempuh pendidikan S1 nya itu. Saya saja tidak kuasa membayangkannya, namun kenyataannya ia sudah menamatkan S1 nya dengan lancar, dan itu adalah bukti bahwa ternyata ia memang mampu melaluinya. Alhamdulillaah, sekarang ia telah memiliki pekerjaan yang tetap dan bisa membantu keluarganya, bahkan juga orang-orang di sekitarnya.


Ternyata selama ini satu hal yang selalu membuatnya kuat, yaitu ibunya. Kekaguman saya tertuju pada sosok ibu yang bagaimanakah yang bisa mendidik anaknya menjadi seseorang yang sekuat teman saya itu. Saya berkeinginan suatu hari harus berkunjung ke rumahnya untuk berkenalan dengan beliau. Tapi suatu hari beberapa bulan lalu saya mendapat kabar bahwa ibunya meninggal dunia. Kabar yang sangat mendadak, karena ibunya tidak pernah mengeluhkan sakit. Saya sedih mendengarnya, seperti ikut merasa kehilangan.


Itulah kenapa saya saya pernah menulis ungkapan kekaguman saya di blog ini dengan judul hormatku untuk ibumu , beberapa waktu lalu. Saya kagum bagaimana beliau bisa mendidik anaknya hingga menjadi seseorang yang dalam menjalani hidupnya selalu berusaha dengan keras, memiliki jalan pemikiran yang cerdas dan memiliki kesabaran yang tak mudah mencapai batas. Terima kasih, dari keluarga ini, saya telah belajar banyak. 

Berjuanglah tanpa batas,
karena satu-satunya batas,
adalah saat di mana kita kembali pada Yang Di Atas

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. -QS. 2: 286-

Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. -QS. 16:96-


1 Minggu 1 Cerita
Yogyakarta, 17 September 2017

Sunday, 3 September 2017

Harapan dalam sebuah Cobaan


Akhir-akhir ini saya jarang mengunjungi dan “menyirami” blog saya. Semoga tidak layu sebelum berkembang ya. Haha, mengingat blog ini baru saya buat di awal tahun. Sepertinya kalau saya tidak mengikuti writing project bersama 1 Minggu 1 Cerita, makin lupa lagi saya dengan blog ini. Memang ya benar kata orang, berubah itu mudah, yang susah itu istiqomah. Semoga blog saya  tidak lagi saya anak tirikan hiks. Padahal setahun belum ada masa iya mau berhenti gitu aja. Rasanya sayang juga kan ya. Cie sayang.

Btw bicara tentang sayang, beberapa waktu yang lalu ketika berdiskusi bersama teman, teman saya bercerita tentang suatu kehidupan rumah tangga, di mana salah satu pasangan begitu sibuk luar biasa. Jadi karena suatu hal, sang istri sedang mengemban tanggung jawab pesar pada pekerjaannya, sedang sang suami berada dalam tahap tidak begitu banyak kesibukan. Sang suami mengeluh jika istrinya tidak pernah punya waktu untuknya. Setiap hari selalu disibukkan dengan kerja, rapat, lapangan, dan sebagainya. Sedangkan di sisi lain, istrinya mengaku bahwa suaminya terkadang mengajak pergi di waktu yang sama ketika ia harus melakukan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, waktu-waktu di luar pekerjaannya pun selalu ia usahakan untuk ada di samping suaminya. Seolah banyak hal yang telah dilakukan oleh sang istri menjadi tidak ada harganya hanya karena sang istri tidak bisa diajak jalan jalan secara mendadak.

Kemudian saya teringat kata-kata sahabat kecil saya ketika dulu saya pernah curhat kegalauan saya menghadapi masalah. Begini katanya

Kalau kata ustadz , setiap orang hidup pasti punya cobaan, cobaannya beda-beda, ada yang dcoba di hubungan dengan orang tuanya, hubungan dengan saudaranya, ada yang dicoba di hubungan dengan suami/istrinya, ada yang dicoba di jodohnya, kesehatannya, karirnya, sekolahnya, lingkungannya, dll.

Dan biasanya cobaannya itu di hal yang paling dia cinta dan dia jaga. Maryam yang sangat menjaga kesuciannya dicoba dengan tiba-tiba memiliki anak tanpa suami, Ibrahim yang menanti anak lama dicoba dgn diperintahkan menyembelih anaknya,. insya Allah pasti ada jalan kalo kita semakin mendekat ke Allah.

Dihubungkan dalam contoh tadi, jika sang suami mengeluh dan mengaku tertekan, menganggap tidak dihargai dan sebagainya, padahal di sisi lain sang istri sudah begitu banyak mencoba membagi waktu dan selalu meluangkan bahkan terkadang sengaja meninggalkan pekerjaannya hanya demi menemani suaminya makan di rumah atau sekedar hang out, menonton film, dll, alhamdulillaah nya adalah berarti kedua orang tersebut masih ada rasa memiliki satu sama lain. Jika dirasa hal tersebut paling mengganggu pikirannya, berarti memang selama ini hubungan itulah yang paling mereka jaga dan mereka cinta. Nah mungkin memang sedang diuji dengan waktu dan komunikasi.

Saya belum menikah, jadi kurang tahu juga sih, tapi katanya di artikel yang pernah saya baca, dalam suatu hubungan suami istri itu porsi saling "memberi" tidak selalu 50:50. Kadang karena suatu hal, A baru bisa memberi 30% maka B hrs memberi 70%. Dan sebaliknya mngkn krna suatu hal, kadang B hny mampu memberi 40% maka A hrs memberi 60%. Tapi yang pntg kasih syang di dlmnya selalu 100%.

Menerima kelebihan seseorang itu biasa, yang luar biasa itu jika kita bisa menerima kekurangan seseorang. Jangan karena kekurangan satu hal menutup banyak kebaikan lain yang selalu diberikan buat kita. Semoga deh nanti kalau sudah Allah izinkan membina rumah tangga, semoga bisa saling membuka hati buat memaafkan dan saling berbesar hati utk minta maaf. Saling introspeksi dan melihat seberapa jatuh bangun perjalanan hidup bersama yang telah dilalui, melihat anak-anak, atau bahkan cucu-cucu, atau bahkan cicit nanti, bisa menjadi kekuatan sekaligus harapan untuk bertahan melalui segalanya bersama.Ihiiiiy~~

Pokoknya yang pntg kita emua harus ada usaha untuk memperbaiki diri dan jd lbh baik. Hrs sabar dan selalu bersyukur. Semoga Allah memberikan kita keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Bersama sampai di jannah. Aamiin.

1Minggu 1Cerita
Klaten, 3 September 2017

Thursday, 17 August 2017

17an dalam 1-7an

Kalo perbedaan itu bikin perpecahan, Pahlawan kita ga mungkin bisa membawa kita dalam kemerdekaan. Jadi jangan jadikan perbedaan sebagai alasan untuk ga bisa bersatu dalam kebersamaan.

Berseberangan dalam hal pemikiran itu hal biasa. Jangankan pemikiran, dari luar pun kita sudah lahir dari latar belakang yang berbeda beda, dari suku, agama, adat, kebiasaan, dan lain lain. Bersatu itu ga harus dipaksa untuk bercampur jadi satu. Tapi bersatu itu berjalan beriringan untuk sebuah tujuan yang satu.

Jadi siapa kita, dari mana kita, sebagai apapun kedudukan kita sekarang, berikanlah kontribusi terbaik untuk bangsa. Jangan hanya menuntut dan merutuki pemerintahan tanpa solusi atau kontribusi yang nyata.

Alhamdulillah ya jaman dulu banget belum ada gadget, jadi saat lelah dikuasai penjajah, Para Pejuang ga update status dengan sumpah serapah untuk para penjajah. Beliau semua menggerakkan raga dan jiwa nya untuk bersatu karena punya tujuan yang satu, yaitu merdeka. Semoga Allah menjadikan akhir hidup Para Pahlawan baik yang kita kenal namanya maupun yang tidak, sebagai akhir yang husnul khotimah.

Semoga nikmat kemerdekaan ga membuat kita terlena hingga hanya menjadi sebuah euforia perayaan tanpa makna. Daripada mencaci lebih baik kita saling mendoakan bangsa kita, dan Para Pemimpin kita semoga berada di jalan yang lurus dan diridhoi Allah.

Selamat mempertahankan kemerdekaan dengan karyamu. Mulai dari diri sendiri, dari hal kecil, dan dari lingkungan terkecilmu.

Berbeda itu biasa, asal masih ada Merah Putih di antara kita.

Dirgahayu Republik Indonesia ke 72
17 Agustus 2017


Tuesday, 11 July 2017

Eksistensi

Di saat kita mengejar eksistensi di dunia maya,
di saat itulah kita melewatkan momen momen terbaik di dunia nyata.

Kita hadir sekedar merekamnya dalam genggaman tangan,
tapi tidak merekamnya dalam ingatan.

Waktu terus berjalan,
dan tanpa sadar kita kehilangan
akan sesuatu yang disebut kenangan.

Tak ada yang bisa dikenang,
selain susah payahnya melindungi gambar dari "polusi" tangan-tangan,
atau bagaimana cara mendapatkan
gambar terbaik untuk dibagi pada beranda teman-teman.

Letakkan sejenak gadgetmu,
lihat sekitarmu,
dan nikmatilah momenmu.

Yogyakarta,
6 Juli 2017




Percayalah mata, hati, dan telinga adalah perekam  yang terbaik
 -Prawitamutia-

Monday, 19 June 2017

Kenapa ya

Kenapa ya perihal perasaan cinta begitu mengaduk dan menguasai sebagian besar kepala kita. Entah perihal jatuh cinta, cinta dalam hati, bertepuk sebelah tangan, diputusin, diselingkuhin, dll. Tapi ya namanya perasaan, kita gabisa sih memaksakan orang lain untuk tidak memikirkan atau membesarkannya seolah hidup ini hampa tanpa cinta darinya, padahal masih banyak lho orang yang sayang kita.

Maksudku, ayo dong, semakin hari kita semakin dewasa lho dan waktu kita makin berkurang. Ada begitu banyak hal yang juga harus kita perhatikan daripada sekedar meratapi status jomblo. Jodoh kita udah ada dan pasti kok, bahkan jauh sebelum kita lahir di dunia.

Kenapa kita ga memenuhi pikiran kita dengan segala hal di sekitar kita yang harus diperhatikan dan butuh aksi nyata dari kita.

Gimana nasib orang di sekitar kita yang kurang mendapat akses pendidikan, gimana orang di sekitar kita tidur berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, kita bisa bantu apa ya

sepuluh hari terakhir ramadhan apa yang sudah kita lakukan ya, banyak banget buka bersama fancy yang harus didatengin nih,

siapa aja sih nabi rasul kita, siapa aja sih sahabat nabi yang dijamin masuk surga, kayanya kita lebih hafal aktor korea, artis hollywood, atau personil boyband deh daripada nabi dan sahabatnya, emang amalannya apa ya kok bisa dijamin masuk surga,

kuliah, skripsi kita bagaimana ya kabarnya, padahal teman teman yang lain bisa lho kenapa kita enggak ya, jangan jangan ada yang salah nih sama diri kita

teman kita yang lama tidak pernah kita sapa, ada di mana ya sekarang, bapak ibu sekarang lagi apa ya, kakak adek sekarang lagi suka apa ya, kapan ya terakhir ngobrol

waktu lihat tv kok ada operasi tangkap tangan KPK, siapa sih yang ditangkap, apa ya kasusnya,

kok sekarang dimana mana teriak intoleran, emang kenapa sih kok tiba tiba semua panik, akar masalahnya apa ya, jangan jangan kita cuma ikut ikut cinta Pancasila teriak toleransi, tapi melihat keyakinan orang lain untuk berpakaian aja kita memandang sebelah mata,

kenapa ya kalo buka hp ngelihat berita artis kita ketawa sendiri bacain komennya, kita heran sama orang yang komen seenaknya,nyinyir sekenanya, haha kenapa sih orang orang ini ngurusin hidup orang lain, tapi ga sadar kita menikmati dan terus cari berita yang serupa, kenapa ya kita

terus pas buka youtube ada siaran ulang, ada anak 8 tahun yang hafal 30 juz Alquran, hafalan kita sampai mana ya, kapan terakhir kita baca alquran,..

ada video orang ga punya tangan kaki,atau ga bisa melihat, sampai susah payah untuk datang ke masjid, pas azan kita ngapain ya,

kenapa hati kita ga tergerak ya…

Banyak hal yang harus lebih kita perhatikan, tapi kita sibuk dengan urusan kita sendiri. Kita sibuk menangisi kisah percintaan kita yang bahkan udah dijamin sama Allah endingnya. Sedangkan “ending” hidup kita, karya kita, manfaat apa yang bisa kita tinggalkan, itu ga dijamin sama Allah. Kita yang harus bergerak dan berubah.

Sekali kali mungkin kita perlu membuka mata hati telinga kita dan bertanya dalam hati, kenapa ya, aku harus melakukan apa ya untuk ikut memperbaiki semuanya….

Tidak bermaksud menggurui, hanya mengajak untuk merenungi

Yogyakarta,
20 Juni 2017

Monday, 5 June 2017

Titik Buta

tidak semua broadcast membosankan untuk dibaca. seperti salah satu yang entah siapa dulu pertama kali menulisnya, menurut saya ini adalah penggambaran sederhana namun menarik tentang "nasihat". terima kasih untuk siapapun pertama kali yang memantik untuk menuliskannya.barusan saya tidak sengaja menemukannya di notes hp saya dan telah saya tambahkan beberapa bagian. semoga yang singkat ini bisa bermanfaat.

semua atlet memiliki pelatih. padahal jika antara pelatih dan atletnya disuruh bertanding, belum tentu pelatihnya akan menang.

mungkin kita bertanya-tanya, mengapa seorang atlet butuh pelatih kalau bisa saja justru ia yang akan menang melawan pelatihnya?

ketahuilah bahwa seorang atlet butuh pelatih bukan karena pelatihnya lebih hebat, tapi karena ia membutuhkan seseorang untuk mengingatkan, mendorong, memotivasi, mengkoreksi, dan melihat hal-hal yang “tidak dapat dia lihat sendiri".

hal yang tidak dapat kita lihat dengan mata sendiri itu yg disebut “blind spot” atau “titik buta”. kita hanya bisa melihat “blind spot” dengan bantuan orang lain.

dalam hidup, kita butuh orang-orang untuk mengawal kehidupan kita, sekaligus untuk mengingatkan kita seandainya prioritas hidup kita mulai bergeser.

kita butuh orang lain yang
- menasihati,
- mengingatkan, bahkan
- menegur jika kita mulai melakukan sesuatu hal yg keliru, yg mungkin tidak kita sadari.

kita butuh kerendahan hati untuk
- menerima kritikan,
- menerima nasihat, dan
- menerima teguran
karena hal itulah yang justru menyelamatkan kita.

kita bukan manusia sempurna.
jadi, biarkan orang lain menjadi “mata” di area blind spot kita, sehingga kita bisa melihat apa yang tidak bisa kita lihat dgn pandangan kita sendiri.

maka bersyukurlah jika masih ada yang mau repot repot menegur atau menasihati kita, itu berarti mereka masih peduli dan ingin kita berubah menjadi lebih baik.

begitupun, tak perlu resah jika ada orang yang mengatakan dalam diri kita ada sesuatu yang salah. berbesar hatilah. bukankah hal itu bisa jadi bahan kita untuk bermuhasabah?

dan yang tidak boleh dilupakan, sudah pasti seorang pelatih akan mengingatkan atletnya dengan tujuan kebaikan, bukan dengan tujuan untuk menjatuhkan. maka di kala kita sedang berperan menjadi "pelatih" bagi orang lain maka sampaikanlah dengan cara yang baik.

mari saling menasihati (dengan baik) di dalam kebaikan ☺

Orang-orang yang bertakwa tidak ada tanggung jawab sedikit pun atas (dosa-dosa) mereka; tetapi (berkewajiban) mengingatkan agar mereka (juga) bertakwa.
(QS Al-An'am: 69)

Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS An-Nahl: 125)

Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. (al-Balad: 17)

Berilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri, dan jauhilah memberikan nasihat di tengah-tengah keramaian. karena nasihat di tengah-tengah manusia itu termasuk satu jenis pelecehan yang aku tidak suka mendengarkannya. jika engkau menyelisihi dan menolak saranku
maka janganlah engkau marah jika kata-katamu tidak aku turuti
-Imam Syafii-